Kumparan Logo

Menjajal Kereta Komuter Bertingkat di Kota Sydney

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
video youtube embed

Seperti umumnya kota-kota modern di dunia, Sydney memiliki kereta komuter sebagai sarana transportasi massal bagi warganya. Kereta komuter di ibu kota negara bagian New South Wales (NSW) di Australia ini, dioperasikan oleh pemerintah NSW melalui Sydney Trains.

Seperti juga KRL Jabodetabek yang dikelola PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), kereta komuter Sydney makin jadi pilihan masyarakat untuk bepergian, khususnya saat pergi dan pulang ngantor. Pada hari kerja di pagi dan sore, stasiun Town Hall yang berada di pusat bisnis (Central Business District/CBD) Sydney, sangat padat oleh penumpang.

Mengutip data Sydney Trains, jumlah penumpang di stasiun itu melonjak 23 persen. Dalam 12 bulan hingga Juni lalu jumlah penumpang di stasiun tersebut mencapai 68 juta orang, melonjak dari periode yang sama setahun sebelumnya yang 55 juta orang.

Kereta komuter Sydney Trains berhenti di Stasiun Central untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. (Foto: Dok. nsw.gov.au)

Meski demikian, saat kumparan menjajal pengalaman menaiki kereta tersebut, kepadatan penumpang tidak seperti KRL Jabodetabek di saat jam pergi dan pulang kantor. Setiap rangkaian kereta yang dioperasikan Sydney Trains memiliki gerbong bertingkat (double deck), sehingga kapasitas angkut penumpangnya lebih banyak.

Sebagian besar ruang di dalam gerbong atas dan bawah, dilengkapi kursi. Hanya sedikit ruang di dekat pintu saja yang punya space agak lapang untuk penumpang berdiri.

Yang membuat gerbong tak terlalu padat, juga headway atau jarak waktu keberangkatan antar-kereta yang tak terlalu lama. Pada jam sibuk di hari kerja, headway bisa hanya 5 menit atau maksimal 15 menit di stasiun-stasiun kecil.

Deck bawah kereta Sydney Trains difoto dari deck atas. (Foto: Wendiyanto/kumparan)

Selain itu, pengelola juga memberlakukan sistem tarif progresif. Yakni tarif saat jam padat (peak) lebih mahal dibandingkan jam longgar (off-peak). Demikian juga tarif hari kerja, lebih mahal dibandingkan hari libur. Selain itu, makin jauh perjalanan, tarif per 10 kilometer (km)-nya juga makin mahal.

Di jam padat misalnya, tarif dewasa untuk 10 km pertama 3,54 dolar Australia (AUD) atau setara AUD 0,35 per km. Sedangkan untuk 10 km berikutnya (10-20 km) tarifnya menjadi AUD 4,40 atau AUD 0,44 per km. Tapi tarif untuk kilometer ke-20 hingga km 35, turun menjadi AUD 5,05 atau setara AUD 0,337 per km.

Sejumlah penumpang menunggu kereta di Stasiun Wynyard, Sydney. (Foto: Wendiyanto/kumparan)

Sistem pembayaran tarif menggunakan kartu elektronik tunggal yang bernama Opal. Seperti juga Kartu Multi Trip (KMT) KRL Jabodetabek atau kartu uang elektronik yang diterbitkan bank, Opal bisa diisi ulang.

Bedanya, Opal ini berlaku untuk semua moda transportasi umum di Sydney. Termasuk LRT (Light Rail Transit) atau trem, bus kota, dan kapal ferry. Sebuah kemudahan yang belum dirasakan pengguna kartu uang elektronik di Indonesia. Sepanjang tahun lalu, pengguna Opal meliputi 340,7 juta perjalanan dengan berbagai moda transportasi umum yang dilayaninya.

Penumpang turun dari kereta komuter Sydney Trains di Stasiun Central, Sydney, Australia. (Foto: Wendiyanto/kumparan)

Sementara Sydney Trains sendiri, jalurnya sudah terkoneksi dengan kereta bandara dan LRT yang jaringannya saat ini sedang diperluas oleh Pemerintah Kota Sydney.

Kereta komuter Sydney Trains, memiliki rute dengan total sepanjang 815 kilometer. Jumlah stasiunnya sendiri mencapai 178, dengan stasiun Town Hall sebagai yang terpadat. Sedangkan stasiun transit terbesar adalah Central. Sebagian besar stasiun ada di bawah tanah terutama yang di kawasan CBD.