Menjelajah Kawasan Tambang Emas Bawah Tanah di Bogor, Hanya 90 Km dari Jakarta
·waktu baca 5 menit

Emas menjadi salah satu komoditas bernilai tinggi. Logam mulia ini kerap jadi simbol kemewahan dan kekayaan. Tak heran, emas banyak digandrungi baik untuk mata uang, sebagai perhiasan, sampai sarana investasi.
Di balik kemilau sebuah emas itu, rupanya untuk menambang emas membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah, termasuk memperhitungkan bagaimana dampaknya ke lingkungan dan sosial masyarakat di area penambangan.
Kumparan berkesempatan melihat lebih dekat bagaimana situasi tambang emas yang dikelola oleh Unit Bisnis Penambangan Emas (UBPE) Pongkor PT Antam Tbk, salah satu anak usaha dari BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID, atau Mining Industry Indonesia.
Sebelum meninjau tambang secara langsung, kumparan dan rombongan mendapat sambutan dari Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID, Dany Amrul Ichdan di Aston Sentul Resort, Bogor. “Program jelajah tambang kita itu untuk memberikan awareness ke publik bahwa tambang kita ini luar biasa besarnya menopang kehidupan negara dan kehidupan dunia,” ujarnya
Tambang emas Pongkor berada di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kabupaten Bogor, tepatnya di Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasi tambang emas ini berjarak sekitar 90 km dari Jakarta, atau bisa ditempuh selama kurang lebih 3 jam perjalanan darat.
Lokasi tambang berada pada ketinggian 600 mdpl namun aksesnya cukup mudah, dengan menyusuri jalan setapak pedesaan di kaki gunung Pongkor yang melalui beberapa kecamatan seperti Kecamatan Leuwiliang dan Kecamatan Nanggung.
Tambang emas Pongkor ini jauh dari gambaran bagaimana area pertambangan pada umumnya yang terik dan gersang. Tambang yang mulai beroperasi dari tahun 1974 ini tergolong masih asri dan hijau. Pada area tambang masih banyak ditemui pepohonan rindang, bahkan satwa liar seperti monyet tak jarang berpapasan dengan pengunjung.
Operasional penambangan di tambang emas pongkor ini dilakukan secara tertutup atau melalui penggalian bawah tanah. Untuk mendapatkan emas-emas dari urat tanah yang terpendam di dalam tanah, dibangun terowongan utama berdiameter 3,3 meter setinggi 3 meter. Jalur terowongan tersebut apabila terus diikuti akan tembus sampai perut Gunung Pongkor yang berjarak sekitar 4 kilometer.
Walaupun berada di bawah tanah, situasi tambang masih cukup sejuk karena dilengkapi dengan sistem ventilasi yang baik. Dinding-dinding terowongan ditopang dengan besi dan baja sementara tanahnya cukup becek tergenang air sisa-sisa proses pengeboran maupun yang mengucur dari sumber dalam tanah.
Tahapan produksi di UBP Emas Pongkor sendiri meliputi tahap perencanaan, penambangan, dan pengelolaan biji tambang atau ore menjadi ore bullion atau batangan logam yang belum murni. Adapun pemurniannya dilakukan oleh Bisnis Pengolahan dan Pemurnian (UBPP) Logam Mulia di Jakarta.
“Kita juga diatur volumenya (penambangan) itu tidak boleh melebih dari rencana. Karena dikhawatirkan sama pemerintah kalau kita lebih, pengelolaan safety, pengelolaan lingkungannya itu berubah tanpa kita desain terlebih dahulu. Takutnya akan ada kecelakaan operasional kerja maupun dampak ke lingkungan,” jelas General Manager UBP Emas Antam, Muhidin.
Melihat Kampung Ciguha dan Sungainya yang Jernih
Setelah berkeliling di lokasi penambangan, kumparan dan rombongan diajak menuju Kampung Ciguha. Kesan pertama yang mencuri perhatian dari kampung ini adalah terdapat sungai yang bersih, airnya biru jernih dan penuh dengan ikan. Tata kelola bangunannya pun cukup bagus, bersih, dan modern. Dengan fasilitas umum seperti musala, toilet, dan beberapa saung sebagai tempat istirahat atau sekadar berbincang-bincang.
Selain tempatnya yang bersih dan panorama sungai yang indah, penduduk Kampung Cihuga sangat ramah. Hal itu bisa dilihat ketika kumparan dan rombongan beserta petugas dari UBPE Pongkor PT Antam berkunjung ke sana, dan disambut hangat masyarakat dengan jamuan makan di salah satu saung utama.
Kampung Cihuga terletak di Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Masih satu lokasi dengan kawasan tambang UBP Emas Pongkor PT Antam. Sungai yang mengalir di Kampung Cihuga termasuk hulu sungai Cikinaki yang mengaliri kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salam dan menjadi satu komponen ekosistem yang vital.
Sungai Cihuga dibangun dengan sistem kolam retensi atau bertingkat-tingkat. Selain terlihat indah untuk tujuan objek wisata, sistem kolam retensi seperti ini juga dapat menjadi pengendali banjir serta sebagai teknologi penjernihan air, di mana suspensi dalam air akan terendap sehingga tidak terjadi pencemaran.
Dahulu, sungai Cihuga sangat kotor dan tercemar. Hal itu diakibatkan oleh masih maraknya gurandil atau penambang emas liar yang beroperasi di sepanjang aliran Sungai Cikaniki. Kegiatan ilegal tersebut menyebabkan sungai tercemar karena penggunaan bahan kimia serta praktik buka lahan untuk penambangan emas ilegal.
Salah satu mantan pentolan gurandil yang kini jadi salah satu tokoh masyarakat di Kampung Cihuga, Willy Sihendi, bercerita bahwa kondisi masyarakat saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan dulu. Sekarang mayoritas penduduk kampung Cihuga berprofesi sebagai pembudidaya ikan, petani, dan peternak. Ketiga sektor usaha tersebut ditopang oleh sungai Cihuga.
Sektor usaha yang dijalankan masyarakat tersebut dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes. Willy mengaku dari usaha budidaya ikan yang dikelolanya bisa meraup omzet sampai puluhan juta per bulan.
“Jadi masyarakat, dari apa yang diciptakan PT Antam ini dengan kebersamaan kami, bisa dinikmati oleh masyarakat. Ini semua tak terlepas dari apa yang dilakukan PT Antam, Taman Nasional, dan Pemerintah. Semuanya kembali untuk kesejahteraan masyarakat,” lanjut Willy.
Human Capital and Finance Division Head UBP Emas Antam, Ridho Anggoro mengatakan bahwa pendekatan ke masyarakat ini tidak berjalan mulus. Perlu waktu empat tahun sampai masyarakat bisa diajak bekerja sama untuk penertiban gurandil.
Melalui program-program serta pendekatan yang dilakukan oleh PT Antam, akhirnya pada tahun 2015 gurandil-gurandil yang memenuhi kawasan tambang emas UBPE Pongkor berhasil ditertibkan.
Dahulu kawasan tambang emas Pongkor dipenuhi dengan gurandil-gurandil baik mereka yang sebagai warga asli maupun pendatang. Banyak masyarakat yang tak menyelesaikan pendidikan karena lebih memilih menjadi penambang emas. Bagaimana tidak, dalam satu hari pendapatan mereka bisa mencapai Rp 300 ribu. Gurandil-gurandil itu mendirikan tenda-tenda di sepanjang aliran sungan Cikaniki dan membuka lahan baru. Ini lah yang menyebabkan sungai Cikaniki pada waktu itu tercemar, berbeda dengan yang sekarang ini.
Saat ini Ciguha akan diproyeksikan menjadi wisata edukasi yang pengelolaannya akan dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.
“Dalam program besar cikal tangkal itu nilai mulianya salah satunya adalah ingin mengalihprofesikan dulunya sebagai penambang emas ilegal,” lanjutnya.
