Kumparan Logo

Menperin Apresiasi Langkah Rachmat Gobel Mau Selamatkan Nyonya Meneer

kumparanBISNISverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nyonya Meneer (Foto: njonjameneer.com)
zoom-in-whitePerbesar
Nyonya Meneer (Foto: njonjameneer.com)

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyambut baik langkah yang diambil Rachmat Gobel yang mau menyelamatkan PT Nyonya Meneer. Perlu diketahui, Nyonya Meneer diputuskan pailit oleh Pengadilan Negeri Semarang karena memiliki kredit macet sebesar Rp 89 miliar.

"Bagus," kata Airlangga saat dihubungi kumparan (kumparan.com), Kamis (10/8).

Sayangnya Airlangga tidak mau berkomentar banyak terutama mengenai rencana ke depan yang harus dilakukan Nyonya Meneer. Menurut Airlangga, hal ini merupakan urusan internal perusahaan dengan Gobel.

"Tanyakan rencananya ke RG (Rachmat Gobel) karena ini murni rencana korporasi," sebut Airlangga.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga turut bahagia setelah mendengar kabar Gobel mau menyelamatkan nasib Nyonya Meneer.

Menperin Airlangga Hartarto dan Irianto Nambrie. (Foto: Novan Nurul Alam/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Menperin Airlangga Hartarto dan Irianto Nambrie. (Foto: Novan Nurul Alam/kumparan)

"Kalau ada yang bisa melakukan itu kita happy. Tapi ini informasi, saya segera telepon (Rachmat Gobel), karena saya happy," ucap Enggar saat ditemui di kantornya, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, hari ini.

Menurut Enggar, keputusan Gobel mau membantu masalah yang membelit Nyonya Meneer adalah tepat. Disebut Enggar, Nyonya Meneer adalah perusahaan yang memiliki nama dan pangsa pasar yang cukup besar .

"Perusahaan itu terlalu besar untuk ada masalah, sayang lah," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Enggar yang juga pengusaha nasional menyatakan masalah yang membelit Nyonya Meneer harus menjadi pelajaran bagi perusahaan lain yang ada di Indonesia. Terutama mengenai pengelolaan perusahaan oleh keluarga.

"Mungkin faktor internal, manajemennya yang kurang. Harus dilihat kalau debt (utang) dibandingkan total aset, itu harus kita teliti, dan bank nya ke siapa. Tipikal bisnis keluarga yang kita harus waspadai adalah generasi ke-3," sebut Enggar.