Kumparan Logo

Menperin: Industri Manufaktur Sumbang 18% PDB, Bantah RI Deindustrialisasi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyampaikan sambutan dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (18/9/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyampaikan sambutan dalam kumparan Green Initiative Conference 2025 di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (18/9/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita membantah anggapan Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi maupun deindustrialisasi dini. Sejumlah indikator mulai dari kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB), pertumbuhan manufaktur, hingga investasi dinilai menunjukkan kondisi sebaliknya.

Kemenperin menilai narasi mengenai deindustrialisasi Indonesia dapat dipatahkan dengan melihat perkembangan industri dalam beberapa tahun terakhir.

“Ada pandangan bahwa kita masuk ke dalam atau sudah masuk ke dalam fase deindustrialisasi, itu terlalu mudah untuk kita patahkan,” ujar Agus dalam keterangannya, Senin (17/8).

Menurut dia, narasi Indonesia mengalami deindustrialisasi hanya disampaikan oleh sebagian kecil pihak dan cenderung berasal dari pihak yang sama.

“Saya justru mempertanyakan dari berbagai pihak, bukan berbagai pihak ya, sebenarnya kalau saya bisa sampaikan hanya sedikit pihak saja dan orangnya itu-itu saja, yang selalu mengeluarkan sebuah narasi yang mengatakan Indonesia sedang atau sudah masuk ke dalam tahap deindustrialisasi maupun deindustrialisasi dini,” katanya.

Salah satu indikator yang digunakan adalah kontribusi industri pengolahan terhadap perekonomian nasional. Dalam empat tahun terakhir, kontribusi sektor tersebut terhadap PDB disebut relatif stabil di kisaran 18-19 persen.

“Kalau kita lihat dalam empat tahun terakhir, dalam indikator pertama, kontribusi industri pengolahan terhadap PDB itu kan tercatat relatif stabil di sekitar 18 sampai 19 persen, dan pertumbuhan industrinya juga cenderung membaik,” ujarnya.

instagram embed

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan masih menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap struktur PDB Indonesia. Pada kuartal II 2026, industri pengolahan menyumbang 18,50 persen terhadap PDB nasional.

Pada periode yang sama, industri pengolahan tumbuh 4,52 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Sektor tersebut juga menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 yang mencapai 5,29 persen yoy.

BPS mencatat pertumbuhan industri pengolahan pada kuartal II 2026 antara lain ditopang industri makanan dan minuman yang tumbuh 6,51 persen, industri barang logam 8,04 persen, serta industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 6,36 persen.

Selain itu, industri alat angkutan tumbuh 5,45 persen, sedangkan industri kimia dan farmasi tumbuh 4,99 persen. Industri makanan dan minuman menjadi sumber pertumbuhan terbesar bagi sektor manufaktur dengan andil 2,26 persen.

Pertumbuhan Manufaktur 2025 Lampaui Ekonomi Nasional

Ilustrasi Motor Listrik Nasional (Molinas) berbasis ALVA N3. Foto: Dok. Hasil Olah Gambar Gemini AI

Kemenperin juga menyoroti kinerja industri manufaktur sepanjang 2025. Pertumbuhan sektor tersebut disebut berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, kondisi yang menurut Kemenperin terakhir kali terjadi pada 2011.

“Kalau kita lihat pada tahun 2025 bahkan, pertumbuhan manufaktur berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional dengan capaian tertinggi, dan ini terakhir terjadi yaitu pada tahun 2011, jadi 14 tahun yang lalu,” katanya.

Berdasarkan data BPS, ekonomi Indonesia secara keseluruhan tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025, meningkat dibandingkan pertumbuhan 5,03 persen pada 2024.

Indikator lain yang dinilai membantah terjadinya deindustrialisasi adalah investasi. Kemenperin menyebut aliran investasi ke sektor manufaktur tetap stabil sepanjang periode 2020-2025.

“Kalau kita lihat dari indikator yang ketiga, investasi, kita juga bisa mencatat bahwa investasi yang masuk ke sektor manufaktur di Indonesia itu selama periode 2020 sampai 2025 stabil saja. Jadi 40 persen total investasi yang masuk ke Indonesia itu arahnya ke industri manufaktur,” ujarnya.

Kemenperin pun menilai perkembangan kontribusi terhadap PDB, pertumbuhan sektor, serta investasi menunjukkan industri manufaktur masih memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia.

“Nah, ada pandangan bahwa kita masuk ke dalam atau sudah masuk ke dalam fase deindustrialisasi, itu terlalu mudah untuk kita patahkan,” tegasnya.