Kumparan Logo

Mentan Ajak Milenial Jadi Petani: Sekarang Bertani Tak Perlu Becek-becekan Lagi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petani merawat padi di Desa Sudamanik, Lebak, Banten, Selasa (25/5/2021). Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petani merawat padi di Desa Sudamanik, Lebak, Banten, Selasa (25/5/2021). Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong milenial untuk mau masuk ke sektor pertanian. Ia memastikan pertanian adalah lapangan kerja yang menjanjikan.

Apalagi, kata Syahrul, cara kerja para petani ke depan semakin berbeda karena adanya teknologi. Sehingga peran generasi milenial di sektor pertanian sangat diperlukan.

"Jangan kira bertani itu berbecek-becek lagi saudara, jangan kira bertani itu harus bermatahari kemudian kita menjadi hitam dan lain-lain. Kan sudah ada mekanisasi pertanian dan teknologi pertanian," kata Syahrul saat membuka pelatihan petani, Jumat (6/8).

Menurut Syahrul, perkembangan teknologi, riset, hingga ilmu pengetahuan di sektor pertanian memungkinkan kerja petani semakin mudah. Ia merasa masih banyak masyarakat belum masuk ke pertanian karena belum tahu kondisinya.

Pekerja migran di sebuah pertanian sayuran di Cameron Highlands di negara bagian Pahang, Malaysia. Foto: Mohd RASFAN / AFP

"Bukankah bapak kita, nenek kita menjadikan kita bisa sekolah, bisa makan, dengan pakaian yang baik bahkan bisa menjadikan kita sarjana mereka juga dari hasil pertanian," ujar Syahrul.

Sebelumnya, Presiden Jokowi juga mendorong anak muda mau masuk ke pertanian. Sebab, saat ini jumlah petani mayoritas sudah berusia 45 tahun ke atas.

"Petani harus jadi profesi yang menjanjikan, profesi yang mensejahterakan. Dan kita harus membuat generasi muda berminat menjadi petani sebab dari total petani Indonesia sebanyak 71 persen berusia 45 tahun ke atas, sedangkan yang di bawah 45 tahun 29 persen," ungkap Jokowi.