Mentan Tegaskan Cetak Sawah di Wanam Merauke Bukan Proyek Paksaan Pemerintah

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan program cetak sawah di Kampung Wanam, Merauke, merupakan aspirasi masyarakat. Ia menekankan program tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi pertanian hingga dua kali lipat dan mendongkrak pendapatan petani menjadi tiga kali lipat.
Amran telah bertemu dan berdialog dengan petani dan masyarakat adat di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada Sabtu (5/7).
"Alhamdulillah, masyarakat menyampaikan langsung bahwa produksi mereka meningkat dua kali lipat dan kesejahteraannya naik tiga kali lipat karena harga yang baik. Bahkan ada petani yang sudah bisa membeli mobil dari hasil bertani. Ini bukti bahwa ketika negara hadir dan petani diberi kesempatan berusaha, kesejahteraan bisa meningkat," kata Amran melalui keterangan tertulis, Kamis (9/7).
Menurutnya, keberhasilan pengembangan kawasan pertanian di Merauke telah mengubah pandangan masyarakat terhadap sektor pertanian. Jika sebelumnya program cetak sawah kerap dipersepsikan sebagai proyek pemerintah, kata Amran, kini justru masyarakat sendiri yang mengajukan permintaan agar program tersebut diperluas.
Amran mengungkapkan dalam pertemuan bersama masyarakat dan pemerintah setempat, muncul usulan agar Pemerintah Pusat menambah luas cetak sawah hingga 10 ribu hektare.
"Yang menarik, kemarin masyarakat meminta tambahan cetak sawah 10 ribu hektare. Saya sampaikan, anggaran pertengahan tahun belum memungkinkan sehingga akan kita siapkan tahun depan. Saya hanya titip satu hal, jangan lagi ada anggapan bahwa ini proyek paksaan pemerintah. Faktanya, ini adalah permintaan dari masyarakat sendiri," tegas Amran.
Amran menjelaskan pemerintah telah membangun lebih dari 100 ribu hektare kawasan pertanian di Merauke yang seluruh manfaatnya diperuntukkan bagi masyarakat. Pemerintah juga menyalurkan bantuan senilai Rp 1,3 triliun untuk Papua Selatan pada 2026 berupa alat dan mesin pertanian, traktor, alat tanam, hingga pembangunan infrastruktur pendukung.
"Semua yang kami bangun untuk rakyat. Traktornya kami hibahkan, alat panennya kami hibahkan, irigasi kami bangun, pintu air kami bangun. Semua bantuan ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua," ujar Amran.
Amran menyebut keberhasilan Merauke kini menjadi inspirasi bagi daerah lain di Tanah Papua. Aspirasi tersebut datang dari berbagai kalangan di antaranya gubernur, bupati, tokoh masyarakat, dan petani dari wilayah Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, serta Papua Pegunungan. Masing-masing mengusulkan program pertanian sesuai potensi wilayahnya.
"Ada yang meminta pengembangan ubi, kopi, kakao, kedelai, hingga sagu. Kami akan penuhi sesuai keunggulan komparatif setiap daerah. Pertanian harus dibangun sesuai karakter wilayah dan budaya masyarakat setempat," ungkap Amran.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Kelompok Tani Yeloko Kampung Wanam, Arnold Awalik, menyampaikan masyarakat pemilik hak ulayat menerima program pemerintah. Ia berharap dukungan cetak sawah terus diperluas.
"Kami berharap setiap keluarga di Wanam memiliki sawah sendiri agar masyarakat Papua semakin sejahtera," ujar Arnold.
Arnold juga mengajukan permohonan agar pemerintah membantu pencetakan sawah seluas sekitar 216 hektare di atas tanah ulayat masyarakat yang akan dikelola langsung oleh kelompok tani.
Menanggapi aspirasi tersebut, Mentan Amran langsung menyetujui permintaan masyarakat dan meningkatkan luas lahan yang akan dicetak menjadi sekitar 250 hektare agar pelaksanaannya lebih efektif.
"Kami penuhi tahun ini. Langsung dikerjakan. Sawah yang dibangun pemerintah nantinya menjadi milik masyarakat. Traktor, alat panen, drone pertanian, hingga irigasi juga kami siapkan. Wanam akan menjadi salah satu kawasan percontohan pertanian modern di Papua," tegas Amran.
Amran menuturkan pemerintah juga akan menerapkan teknologi budidaya padi modern yang mampu meningkatkan produktivitas hingga sekitar 10 ton per hektare melalui penggunaan mekanisasi, drone pertanian, dan sistem tanam berproduktivitas tinggi yang telah dikembangkan Kementerian Pertanian.
