Kumparan Logo

Menteri ESDM Beberkan Penyebab Solar Langka: Beda Rp 8.000 dengan Nonsubsidi

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM Arifin Tasrif. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM Arifin Tasrif. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyebutkan disparitas harga yang jauh antara solar subsidi dan nonsubsidi menjadi pemicu kelangkaan solar subsidi belakangan ini.

"Bandingkan saja Pertamina Dex (nonsubsidi) dengan Biosolar (bersubsidi) sekarang bedanya sekitar Rp8.000 per liter, cukup jauh bedanya. Akibatnya masyarakat yang seharusnya dapat (BBM subsidi) malah tidak kebagian," ujarnya seperti dikutip dari Antara, Jumat (8/4).

Meski demikian, kata dia, harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia merupakan salah satu yang termurah dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang telah naik dua sampai tiga kali lipat belakangan ini.

Arifin menjelaskan bahwa salah satu faktor yang membentuk disparitas harga adalah gangguan suplai minyak global akibat konflik geopolitik Rusia dengan Ukraina, sehingga harga minyak dunia melambung tinggi.

Pada Maret 2022, harga minyak mentah Indonesia (ICP) telah menyentuh level 113,50 dolar AS per barel atau naik sebesar 17,78 dolar AS per barel dari sebelumnya 95,72 dolar AS per barel pada Februari 2022.

"Minyak-minyak Rusia diembargo tidak boleh keluar, akibatnya terjadi ketidakseimbangan suplai, sehingga harga minyak dunia tinggi dan susah didapat," jelas Arifin.

Sejumlah kendaraan mengantre di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) lintas Nasional Lhokseumawe, Aceh pada Rabu (30/3/2022). Foto: Rahmad/ANTARA FOTO

Meski demikian, Arifin memastikan kuota bahan bakar minyak cukup saat Ramadhan dan Idul Fitri serta memberi sinyal adanya penambahan kuota hingga 10 persen sebagai bentuk antisipasi pemerintah terhadap permintaan yang meningkat karena kegiatan ekonomi yang juga meningkat.

Pada Kamis (7/4), Arifin bersama Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati melakukan inspeksi mendadak ke sembilan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan guna memantau ketersediaan pasokan dan distribusi BBM di wilayah pertambangan dan perkebunan tersebut.

Tanda bertuliskan solar habis di SPBU Lebak, Banten, Selasa (29/3/2022). Foto: Muhammad Bagus Khoirunas/ANTARA FOTO

Arifin menekankan pihaknya akan meningkatkan pengawasan langsung guna mencegah kelangkaan, antrean, dan potensi penyalahgunaan selama Ramadhan dan Idul Fitri.

Menurutnya, pasokan dan konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi jenis solar harus diperuntukkan secara tepat sasaran.

"Kami prioritaskan kendaraan-kendaraan yang memang mendapatkan solar subsidi bisa dipenuhi. Seharusnya mereka yang tidak berhak mendapatkan solar subsidi tidak menikmatinya biar tepat sasaran," tegas Arifin.