Kumparan Logo

Menteri ESDM Dorong Penggunaan Energi Terbarukan: Sumur Minyak Sudah Tua

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Indonesia ditargetkan bisa memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) hingga 25 persen dari bauran energi nasional di 2025. Namun, sampai saat ini pemanfaatan EBT masih jauh dari target.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengungkapkan, sejauh ini bauran EBT baru 11 persen. Sehingga pemanfaatannya harus digenjot lagi.

“Jadi saat ini pemanfaatan energi baru terbarukan itu di dalam bauran energi baru hampir 11 persen. Sedangkan kita punya waktu tinggal 4 tahun lagi untuk menuju ke 25 persen. Jadi ini kita harus bisa mempercepat,” kata Arifin saat webinar yang digelar Indika Energy, Selasa (19/10).

Arifin mengatakan, Indonesia memang dilimpahi banyak sumber energi baik fosil maupun EBT. Meski begitu, ia merasa penggunaan EBT harus diutamakan. Harganya juga harus terjangkau.

“Nah memang kita manfaatkan apa yang mudah dimanfaatkan dan kemudian costnya juga bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat industri sehingga kita bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita,” ujar Arifin.

Pekerja melakukan perawatan panel surya di Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) milik Hotel Santika Premiere Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (7/7/2021). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Penggunaan EBT bukan tanpa alasan. Arifin mengungkapkan energi fosil tidak bisa diperbarui. Sementara kebutuhan masyarakat masih terus ada.

Lebih lanjut, Arifin menuturkan sumber energi fosil juga terus berkurang. Ia menjelaskan, sebelumnya energi minyak banyak dan mudah didapatkan di wilayah barat Indonesia. Saat ini bergeser ke wilayah timur tetapi proses yang diperlukan tidak mudah karena ada di lepas pantai.

“Ke depannya energi-energi fosil ini tidak terbarukan contohnya minyak. Minyak kita dulu pernah mencapai masa jayanya dan itu berada di wilayah barat Indonesia. Sekarang itu sudah terindikasi penurunan produksinya, sumur-sumur sudah tua, kalau dipompa keluar kebanyakan airnya, minyaknya 1 persen, airnya 99 persen. Jadi ini karakter sumur yang ada yang sudah tua,” tutur Arifin.