Kumparan Logo

Menteri PPN Buka IPOC 2025: Sawit Bagian Penting dari Ketahanan Pangan-Energi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional yang juga Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN-Bappenas) Rachmat Pambudy menghadiri Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and 2026 Price Outlook yang digelar di Hotel Westin, Bali, Kamis (13/11/2025). Foto: Denita BR Matondang/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional yang juga Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN-Bappenas) Rachmat Pambudy menghadiri Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and 2026 Price Outlook yang digelar di Hotel Westin, Bali, Kamis (13/11/2025). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy bicara soal kontribusi besar sektor sawit.

Menurut Rachmat, kondisi iklim yang tidak menentu karena pemanasan global serta meningkatnya populasi manusia, membuat kebutuhan terhadap pangan dan energi juga meningkat.

Ia mengungkapkan, memenuhi kebutuhan ini tidak hanya memerlukan produksi, tetapi juga pengelolaan sumber daya, pengaturan permintaan, dan distribusi hasil secara adil.

"Dan kelapa sawit adalah bagian penting dari ini. Sawit menyediakan pangan bergizi, pakan ternak, serat produktif, sumber energi, dan yang terpenting penghidupan bagi jutaan orang di seluruh dunia," kata Rachmat dalam International Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and 2026 Price Outlook yang digelar di Hotel Westin, Bali, Kamis (13/11).

Kendati begitu, lanjut Rachmat, seiring meningkatnya permintaan, komoditas ini mesti dikelola secara bijak dan bertanggung jawab untuk menyeimbangkan produktivitas dengan keberlanjutan.

Rachmat menjelaskan, Indonesia bertekad untuk mengelola komoditas ini dengan hati-hati, cermat, dan inklusif, dengan kesadaran bahwa keputusan yang diambil hari ini akan menentukan kesejahteraan generasi mendatang.

"Bagi Indonesia, kelapa sawit lebih dari sekadar komoditas. Seperti yang telah disampaikan beberapa pembicara sebelumnya, sawit adalah jembatan, jembatan persahabatan, perdamaian, dan kemanusiaan," tuturnya.

Proses panen kelapa sawit di lahan Astra Agro Lestari di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

"Melalui kelapa sawit, kita terhubung dengan negara, komunitas, dan industri di seluruh dunia, bukan untuk menumbuhkan kompetisi, tetapi untuk membangun kerja sama dan nilai bersama," sambungnya.

Sebagai anggota masyarakat global yang bertanggung jawab, Indonesia tetap berkomitmen mengelola sumber daya alamnya sesuai prinsip tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). SDGs ini menjadi kompas moral pembangunan modern dan masa depan, yang menghubungkan kemakmuran, manusia, dan planet dalam satu visi yang tidak terpisahkan.

instagram embed

"Pada saat yang sama, kami menyerukan kepada komunitas agribisnis kelapa sawit untuk lebih adil terhadap petani kecil, pekerja perkebunan, dan keluarga mereka, orang-orang yang kerja kerasnya menopang pasokan minyak sawit dunia," ujarnya.

Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat produksi minyak sawit mencapai 43 juta ton pada September 2025. Tingkat produksi naik sekitar 11 persen dibandingkan tahun lalu.

Di sisi ekspor, termasuk CPO dan turunannya, oleokimia, serta biodiesel, mencapai lebih dari 25 juta ton atau naik 13 persen tahun lalu. Sementara di dalam negeri, konsumsi domestik mencapai 18,5 juta ton naik tipis dibandingkan 17,6 juta ton pada tahun lalu.