Menyelamatkan UMKM, Menyelamatkan Ekonomi Indonesia

Pandemi virus corona telah mengubah aktivitas ekonomi dan interaksi sosial masyarakat. Untuk mencegah penularan virus corona misalnya, masyarakat cenderung melakukan transaksi secara online, untuk menghindari interaksi fisik. Hal ini sedikit banyak berdampak pada kegiatan usaha mikro, kecil, dan menengah UMKM.
Data Bank Indonesia (BI) mencatat, pada Maret 2020 volume transaksi melalui e-commerce di Indonesia mencapai 98,3 juta atau meningkat 18,1 persen (mtm). Sementara total nilai transaksi sebesar Rp 20,9 triliun atau meningkat 9,9 persen (mtm).
Pada sisi lain, dari 64,2 juta pelaku UMKM yang tercatat di Kementerian Koperasi dan UMKM hingga semester I 2019, baru 13 persen atau sekitar 8,3 juta UMKM saja yang sudah memanfaatkan digitalisasi dalam menjalankan usahanya. Hal ini menyebabkan UMKM menanggung dampak ganda dari pandemi virus corona.
Pertama, tidak dapat ikut merasakan manfaat dari peningkatan transaksi online di masa pandemi virus corona. Kedua, akibat dari dampak yang pertama, UMKM Indonesia mengalami kesulitan cashflow, sehingga usahanya terhambat. Jika UMKM tersebut memiliki kredit dari bank atau lembaga pembiayaan, mereka pun sulit mengangsur kewajibannya.
Melihat kondisi tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Pemerintah bersama Bank Indonesia, akan berupaya mendorong peningkatan peran UMKM sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus untuk mempercepat pemulihan ekonomi.
“Dalam merespons permasalahan yang timbul sebagai akibat pandemi COVID-19, pengembangan UMKM diarahkan untuk memulihkan dan menjaga ketahanan melalui penguatan dan sinergi kebijakan antar instansi terkait,” ungkap Sri Mulyani dalam pidato di Rapat Paripurna DPR, Kamis (18/6).
Tak berlebihan jika mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menilai pemulihan UMKM ini akan berbanding lurus dengan pemulihan ekonomi nasional. Untuk itu, menurutnya, Pemerintah akan mendorong UMKM sebagai kekuatan baru perekonomian nasional melalui pengembangan yang sustainable dan inovatif.
Dari 64,2 juta unit usaha, UMKM yang terdata di Kementerian Koperasi dan UMKM, sebanyak 63,3 juta atau 98,6 persen merupakan pelaku usaha mikro, sisanya pelaku usaha kecil (1,2 persen) dan menengah (0,09 persen). Dari survei dampak virus corona ke UMKM, diketahui 35 persen UMKM mengalami masalah di aspek pemasaran, 34 persen UMKM lainnya mengalami masalah akibat anjloknya penjualan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, BRI mendukung langkah Kementerian Koperasi dan UMKM yang mendorong sektor usaha tersebut untuk menerapkan digitalisasi. Dukungan itu antara lain dilakukan dengan melakukan kunjungan langsung kepada para pedagang di Pasar Pagi Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (23/6).
Profil UMKM Indonesia
Jumlah UMKM: 64,2 Juta Unit (99,99 Persen dari Pelaku Usaha)
Usaha Mikro: 63,3 Juta Unit (98,6 Persen dari Total UMKM)
Usaha Kecil: 770.400 Unit (1,2 Persen dari Total UMKM)
Usaha Menengah: 128.400 Unit (0,2 Persen dari Total UMKM)
Kegiatan tersebut dihadiri secara langsung oleh Menteri Koperasi dan UMKM, Teten Masduki dan Wakil Direktur Utama Bank BRI, Catur Budi Harto. Dalam kesempatan itu, diluncurkan implementasi Web Pasar yang dimanfaatkan oleh para pedagang dan pembeli di wilayah Pasar Pagi Rawamangun.
Teten mengungkapkan, Pemerintah sangat menyambut baik Web Pasar yang diinisiasi oleh BRI, karena momentum sekarang ini saat yang tepat untuk percepatan UMKM memasarkan produknya melalui digital.
“Kita dan BRI seringkali melakukan pendampingan bersama melalui pemberian pelatihan dan pembinaan dalam rangka inkubasi bagi mereka agar dapat terhubung dengan ekosistem digital,” kata Teten.
Dukungan BRI untuk mentransformasi UMKM ke ranah digital, tak hanya dilakukan untuk skala ekonomi lokal seperti transaksi di pasar. BRI juga memberikan pendampingan dan terobosan inovasi baru bagi pelaku UMKM di tanah air. Bertepatan hari UKM Internasional, Bank BRI berkolaborasi dengan International Council for Small Business (ICSB), memberikan pelatihan secara virtual.
Hambatan Bisnis UMKM Indonesia
87% Tak Terkoneksi Digital
35% Masalah Marketing
34% Penjualan Anjlok di Masa Pandemi
Melalui aplikasi penyedia video conference, sejumlah UMKM dilibatkan dalam beberapa sesi pelatihan. Seperti strategi pemberdayaan UKM oleh Pemerintah, cerita sukses para pelaku UKM, serta strategi bisnis dan pemasaran UKM di era new normal.
Upaya-upaya penyelamatan dan pemberdayaan UMKM di masa pandemi virus corona ini, tentunya akan menjadi penopang perekonomian Indonesia. Karena mengutip data Bank Indonesia, populasi UMKM meliputi 99,99 persen dari total pelaku usaha di Indonesia.
