Kumparan Logo

Meski Raup Laba, Emiten KREN Tak Bagikan Dividen

kumparanBISNISverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN) merayakan Sweet Seventeen alias 17 tahun sebagai perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Selfy Momongan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN) merayakan Sweet Seventeen alias 17 tahun sebagai perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Selfy Momongan/kumparan

PT Kresna Graha Investama (KREN) memutuskan untuk tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham dari laba yang diperoleh pada tahun buku 2019 lalu. Direktur Utama Kresna Graha Investama Michael Steven beralasan secara model bisnis, KREN berbeda dengan perusahaan lain yang rutin membagikan dividen.

Michael menilai, kebijakan pembagian dividen lebih cocok dilakukan oleh perusahaan yang bergerak di bidang utilisasi. Sedangkan sebagai perusahaan investasi, Michael menilai laba yang didapatkan harus langsung digunakan kembali demi menjaga keberlangsungan perseroan.

“Jadi kalau saya bilang kita bukan dividen policy company. Kita lebih ke arah high growth high potential company,” ungkap Michael dalam konferensi pers virtual, Rabu (24/6).

Ilustrasi bursa efek. Foto: Helmi Afandi/kumparan

Meski demikian, Michael tidak menutup kemungkinan bahwa di lain kesempatan bisa saja KREN memutuskan untuk tebar dividen kepada pemegang saham. Hal tersebut menurutnya bisa terealisasi dengan syarat perseroan telah berhasil mencapai level pertumbuhan yang ditargetkan.

Seperti diketahui, KREN mencatatkan kinerja positif sepanjang 2019. KREN membukukan pendapatan sebesar Rp 11,6 triliun. Angka tersebut naik 61 persen secara year on year dibanding capaian tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 7,2 triliun.

Adapun pendapatan emiten ini didorong dari bertumbuhnya segmen teknologi dan digital yang naik menjadi 95,5 persen, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sekitar 88,2 persen.

Namun demikian, laba bersih KREN sepanjang 2019 tercatat merosot 57,1 persen menjadi Rp 216,1 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang senilai Rp 503,5 miliar.