Meski Sakit, Luhut Tetap Pantau Kerjaan dari Singapura
ยทwaktu baca 2 menit

Terhitung sudah lebih dari 2 pekan sejak Selasa (10/10), Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan masih dalam tahap pemulihan dan pemeriksaan medis di Singapura.
Dalam unggahan di Instagram pribadinya, Luhut mengaku kangen menjalani aktivitas seperti sedia kala. Meski terbaring di rumah sakit, dia masih memantau pekerjaan yang berjalan di Jakarta karena berkomunikasi dengan para menteri terkait.
Saya berkomunikasi banyak dengan teman-teman menteri itu. Mereka juga pada datang (menjenguk), karena mereka mengatakan ke saya ya kita butuh Pak Luhut bantu begini begitu dan sebagainya," ujarnya, Sabtu (28/10).
"Walaupun menurut saya tidak sepenuhnya benar, karena ini adalah kerja sama tim. Teamwork yang terbangun di bawah leadership Pak Jokowi, saya hanya eksekutor kok," tambah Luhut.
Beberapa proyek yang dipantau Luhut di antaranya perpanjangan kereta cepat Jakarta-Surabaya. Sudah ada kesepakatan antara Indonesia dan China terkait proyek tersebut.
"Tadi saya dengar perjanjian dengan dengan China jalan, malah bunganya jauh lebih murah daripada bunga yang ditawarkan negara lain. Dan teknologinya, kita sudah buktikan dan kita sudah punya pengalaman," jelas Luhut.
Kemudian, terkait program hilirisasi sumber daya alam, salah satunya produk rumput laut yang bisa diolah menjadi pupuk organik, minyak, degradable plastic, dan bisa membantu mengurangi pencemaran laut.
"Hilirisasi tentu perlu penyempurnaan di sana sini tapi satu program yang jangan dimulai dari nol lagi, karena banyak hilirisasi yang dilakukan baik dalam bidang misalnya rumput laut. Sekarang studi di Buleleng itu sudah maju sekali," tuturnya.
Bantah Dirinya Mundur dari Kabinet
Luhut pun membantah soal isu dirinya akan mundur dari posisinya sebagai Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi lantaran sakit di Singapura. Dia memastikan tak akan mundur dari Kabinet Pemerintahan Jokowi.
"Saya tidak akan pernah mundur dari Jokowi. Saya akan tetap loyal pada Pak Jokowi, sampai saat terakhir dia mungkin tidak membutuhkan saya," katanya.
Luhut menganggap Jokowi seperti seorang komandan yang patut didukung penuh oleh siapa pun. Alasannya, karena Luhut melihat mantan Gubernur DKI Jakarta itu masih punya karakter untuk membangun Indonesia.
"Kita itu perlu pemimpin yang punya karakter kuat, yang berani mengatakan tidak dan berani mengatakan ya dengan alasan-alasan yang jelas," tegas Luhut.
