Miliarder Norwegia Ini Rela Bayar Pajak Rp 1,7 M per Hari demi Bisnis Salmon
·waktu baca 8 menit

Mengutip Bloomberg, tamu-tamu tersebut ingin mempelajari bagaimana ayahnya membangun perusahaan dari sebuah fasilitas penyimpanan dingin dan rumah potong sederhana hingga menjadi produsen salmon terbesar kedua di dunia.
Selama sekitar dua tahun di usia 20-an, Witzoe bangun sebelum fajar dan menaiki perahu kecil untuk perjalanan selama 25 menit menuju keramba pesisir perusahaan.
Di sana ia bekerja dalam sistem shift, dari pukul 07.00 hingga 17.00, satu minggu bekerja dan satu minggu libur di bawah pengawasan teman masa kecilnya yang, menurutnya, “memperlakukan saya sedikit lebih keras dibanding yang lain," katanya mengutip Bloomberg, Sabtu (16/5).
Di tengah pasang surut air laut, ia memberi makan salmon, menghitung jumlah ikan, memantau kesehatannya, menangani pelet pakan, hingga mengirim ikan untuk dipotong.
Ia masih mengingat dinginnya tangan saat mengikat kapal suplai di pagi musim dingin yang gelap, ketika langit nyaris tidak terang di atas cakrawala.
Pada Oktober 2022, Witzoe menghadapi keputusan besar: tetap tinggal di pulau itu atau pindah ke Swiss demi menghindari kenaikan pajak kekayaan. Ia nyaris pergi ke sebuah rumah di Lugano sudah disewa dan pesawat sudah siap. Namun, percakapan dengan teman-temannya sambil minum bir membuatnya berubah pikiran.
“Semua orang mengatakan itu keputusan terbaik untuk bisnis, tapi bukan keputusan terbaik untuk saya. Saya sebenarnya sudah hampir naik pesawat lalu berbalik arah,” kata Witzoe dalam wawancara eksklusif di Frøya, dikutip dari Bloomberg.
“Berangin, terpencil, gelap, dan dingin saat musim dingin, tempat ini memang bukan untuk semua orang. Tapi ada kekuatan khusus dalam komunitas ini dan saya menyukainya,” tambahnya.
Witzoe tumbuh sebagai anak tunggal dengan kehidupan yang terasa aman dan membumi. Neneknya tinggal di dekatnya, ia tinggal berlari melintasi halaman untuk menemuinya.
Ia lebih menyukai sepak bola dibanding belajar, ia tidak pernah kuliah dan pada masa pemberontakannya, ia sempat bekerja sebagai model, menghabiskan waktu di New York dan menikmati anonimitas bar-bar di Manhattan.
Dalam ajang New York Fashion Week 2019, ia bertemu pasangan asal Amerika Serikat (AS), Lexi Fernandez, yang kini telah memberinya seorang putri.
Frøya merupakan pulau dengan sekitar 5.700 penduduk dan menjadi rumah bagi tiga miliarder lain yang juga membangun kekayaan dari sektor akuakultur.
Pulau ini dikenal secara lokal sebagai 'pulau para miliarder' dan bahkan menginspirasi serial drama Billionaire Island produksi Netflix pada 2024 tentang persaingan para peternak salmon di sana.
Meski demikian, tanda kemewahan di pulau itu hampir tidak terlihat selain stadion olahraga baru. Kota utama dan kawasan sekitarnya tetap sederhana, dengan rumah-rumah rendah dan jalan berliku. Properti mewah di sepanjang garis pantai yang terjal tersembunyi dari pandangan.
Mentalitas Pantang Menyerah
Wali Kota Frøya, Kristin Stromskag, mengatakan sikap 'can-do attitude' atau mentalitas pantang menyerah warga menjadi penjelasan transformasi pulau tersebut selama lima dekade, dari desa nelayan miskin dan terpencil menjadi pusat global industri salmon yang sangat menguntungkan.
Dua perusahaan publik lainx peternak ikan Masoval AS dan produsen kemasan Bewi ASA, juga beroperasi di pulau itu, bersama berbagai perusahaan rantai pasok lainnya. Selain itu, dua perusahaan agribisnis swasta besar, Cargill Inc. dan Skretting AS, juga aktif di wilayah tersebut.
Menurut sang wali kota, sebagian besar perusahaan dimiliki warga lokal dan kerja sama dengan pemerintah daerah berjalan lancar.
Witzoe membayar harga mahal karena memilih tetap tinggal di sana, sekitar 1 juta kroner atau sekitar USD 100 ribu atau Rp 1,76 miliar per hari untuk pajak dan pungutan. Saat berusia 14 tahun, ayahnya memindahkan kepemilikan SalMar kepadanya demi alasan pajak, dan pada usia 18 tahun ia sudah masuk daftar pembayar pajak terbesar di Norwegia.
Pada Januari lalu, ia menjadi CEO Kvarv AS, perusahaan induk investasi keluarga yang mengendalikan SalMar, dan kini terlibat langsung dalam operasional bisnis. Bloomberg Billionaires Index mencatat, kekayaannya diperkirakan mencapai USD 5 miliar atau sekitar Rp 88 triliun (kurs Rp 17.596).
Ia pun mengaku tidak menyesali keputusannya bertahan di Frøya, tetapi merasa dana yang digunakan untuk membayar pajak seharusnya bisa dipakai mengembangkan perusahaan yang merupakan bagian dari industri ekspor terbesar kedua Norwegia setelah minyak dan gas.
“Saya percaya membayar pajak dan orang kaya memang harus berkontribusi lebih. tetapi jenis pajak seperti ini merugikan bisnis,” katanya.
Tiga miliarder lain juga tetap tinggal di Frøya setelah pemerintah menaikkan pajak bagi individu kaya dan mengubah aturan pajak dividen. Namun satu anggota keluarga Masoval termasuk di antara sekitar 300 orang super kaya yang diperkirakan pindah ke luar negeri hingga 2024.
Ayahnya, Gustav Witzoe Sr., fokus memperluas bisnis yang didirikannya pada 1991 di sepanjang pantai Norwegia hingga perbatasan Rusia. Setelah itu, perusahaan berekspansi ke kawasan Atlantik Utara penting lainnya di Islandia melalui Arnarlax ehf. dan di Skotlandia lewat kepemilikan saham di Scottish Sea Farms Ltd.
Perusahaan juga membangun lokasi budidaya lepas pantai bernama Ocean Farm 1. Dengan ekspansi cepat pada akhir 2010-an, SalMar kini dianggap sebagai pesaing utama Mowi ASA yang berbasis di Bergen. Pendapatan perusahaan tahun lalu mencapai sekitar 27,4 miliar kroner.
Untuk menjadi perusahaan budidaya salmon terbaik di dunia yang diukur dari margin tertinggi dan tingkat kematian salmon terendah, Witzoe kini mengadopsi teknologi baru.
“Saya ingin kami menjadi pelopor. Kami ingin menjaga manusia dan lautan. Kalau perusahaan tidak berkembang, maka perusahaan akan mati,” ujarnya.
Melalui perusahaan investasinya, Ichthus Venture Capital, Witzoe mendukung TidalX, perusahaan AI hasil spin-off dari Google milik Alphabet Inc. Ia juga menguji sistem penghilang kutu laut yang masih dikembangkan, menggunakan kamera bawah air dan pemantauan digital untuk mengidentifikasi ikan satu per satu, melacak kesehatan dan pertumbuhannya, serta mengoptimalkan pemberian pakan dan penanganan parasit.
Pada 2024, SalMar mulai menggunakan sistem laser bawah air otomatis buatan Stingray Marine Solutions AS yang dirancang mendeteksi dan membunuh kutu laut sambil meminimalkan kerusakan pada ikan.
Di layar ruang kontrol Ocean Farm 1 terlihat kilatan cahaya dari 'pistol' laser yang menembak krustasea pipih seperti ubur-ubur itu ketika salmon berenang tenang di perairan dalam.
Parasit tersebut merupakan tantangan terbesar industri salmon. Kutu laut menempel pada kulit salmon dan memakan lendir serta darahnya. Parasit itu dapat menyebar cepat di keramba, memicu stres dan meningkatkan kematian ikan saat wabah parah terjadi.
Metode tradisional biasanya menggunakan bahan kimia keras atau sikat mekanis. Ocean Farm 1 sendiri berlokasi sekitar 24 kilometer dari pantai utara Frøya dan mampu memproduksi sekitar 7.000 ton salmon setiap generasi atau sekitar setiap 1,5 tahun.
Konstruksi baja bundar berwarna kuning itu menyerupai rig raksasa dan diikat ke dasar laut dengan delapan jangkar besar. Sekitar 1 juta salmon berenang di dalam kandang internalnya pada suatu Senin baru-baru ini. Punggung ikan tampak biru gelap karena menyesuaikan warna langit, kata operator peternakan Brage Strand Hansen.
Ini merupakan metode budidaya salmon paling mahal di laut, namun juga salah satu yang paling sehat bagi ikan. Tingkat kematian ikan di lepas pantai jauh lebih rendah dibanding keramba dekat daratan.
Jika rata-rata tingkat kematian industri salmon Norwegia sekitar 15 persen, Ocean Farm 1 berharap bisa menekan angka itu hingga di bawah 3 persen tahun ini.
“Semakin jauh ke laut, semakin baik kondisi untuk ikan. Arus lebih kuat, oksigen lebih banyak, lingkungan lebih stabil,” kata Witzoe.
Ia ingin membangun lebih banyak fasilitas seperti ini, tetapi ekspansi ke laut lepas terbatas oleh biaya tinggi dan regulasi ketat.
Wuchang Shipbuilding Industry Group membangun Ocean Farm 1 di China dengan biaya sekitar USD 100 juta sebelum ditarik ke Frøya dan mulai beroperasi pada 2017. Investasi itu menjadi yang terbesar dalam sejarah perusahaan dan membutuhkan sekitar lima lisensi besar yang sulit diperoleh di bawah sistem regulasi Norwegia yang dirancang untuk mengendalikan dampak lingkungan, kesehatan ikan, dan persaingan ruang laut.
Sembilan tahun kemudian, fasilitas tersebut masih menjadi satu-satunya yang sejenis di Norwegia.“Potensinya sebenarnya sangat besar,” kata Witzoe.
Peternakan SalMar Hasilkan 15.000 Ton Salmon
Peternakan salmon terbesar SalMar terdiri dari 16 keramba dan menghasilkan sekitar 15.000 ton salmon per generasi. Menurut perusahaan, angka itu merupakan rekor dunia.
Salmon dari lokasi tersebut, bersama hasil Ocean Farm 1, dipanen saat beratnya sekitar 5,5 kilogram per ekor lalu dikirim ke berbagai negara seperti AS, Jepang, Brasil, Polandia, dan China.
Ternyata konsumen Asia menyukai ikan utuh dengan kepala masih menempel, konsumen Eropa cenderung membeli potongan individual dalam kemasan, sedangkan warga Amerika lebih menyukai filet.
Kepala strategi SalMar, Runar Sivertsen, mengatakan tarif perdagangan menjadi tantangan, tetapo permintaan salmon Norwegia yang diproduksi secara berkelanjutan di AS tetap tinggi.
Ia menilai Asia akan menjadi salah satu sumber pertumbuhan terbesar dalam lima tahun ke depan, terutama China serta pasar baru seperti India.
Perusahaan telah menginvestasikan “miliaran kroner” untuk teknologi baru serta menguji keramba tertutup dan semi-tertutup. Menurut Sivertsen, industri salmon bekerja serius untuk meminimalkan dampak lingkungan bersama pemerintah dan akademisi.
Para aktivis lingkungan telah lama mengkritik industri ini yang berkembang pesat sejak awal 2000-an seiring meningkatnya permintaan protein global.
Mereka mempertanyakan dampak budidaya terbuka terhadap kesehatan ikan dan ekosistem laut, termasuk meningkatnya polusi nutrisi di fjord, serta mempertanyakan apakah industri ini benar-benar bisa berkelanjutan.
Namun Witzoe yakin salmon miliknya hidup dengan baik. Ia mengatakan salmon liar memang menghabiskan sebagian besar hidupnya di laut sebelum masuk ke fjord dan sungai untuk berkembang biak.
Menurutnya, SalMar bekerja keras memastikan kondisi terbaik bagi ikan. “Itu yang paling penting bagi kami, bagi semua orang yang bekerja di sini, yang penting salmonnya sehat,” ujarnya.
Saat melihat salmon melompat dan berputar di bawah rotor penyebar pakan dengan punggung berkilau terkena matahari, Witzoe mengenang kebersamaan, kerja fisik, dan ritme hari-hari panjangnya di Rataren.
Kini ia duduk di belakang meja sebagai pemimpin perusahaan dan malam-malamnya justru lebih gelisah.
“Itu pekerjaan hebat dengan orang-orang hebat. Saya tidur sangat nyenyak, karena tubuh lelah dan saya tidak perlu memikirkan apa pun. Ketika shift selesai, saya tinggal mematikan pikiran dan tidur,” kata Witzoe.
“Saya selalu dekat dengan bisnis ini sepanjang hidup saya. Sekarang saya ingin total menjalaninya,” lanjutnya sembari mengenang pekerjaan pertamanya di SalMar saat membantu mengemas ikan pada usia 12 tahun.
