Minat Investor ke Pasar RI Mulai Meningkat Usai Rupiah Menguat dan Review MSCI

Minat investor terhadap pasar Indonesia dalam beberapa hari terakhir dinilai menunjukkan perbaikan seiring penguatan rupiah serta meredanya kekhawatiran terkait status pasar modal Indonesia di Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Penyedia indeks global tersebut tetap mempertahankan status pasar modal Indonesia dalam kategori pasar negara berkembang atau Emerging Markets. Penilaian ini berdasarkan laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review yang dirilis Kamis (18/6).
Economic Researcher CORE, Yusuf Randy Manilet, menyatakan perbaikan sentimen tersebut dinilai masih berlangsung secara hati-hati dan belum mencerminkan perubahan tren yang kuat.
Yusuf menyatakan, penguatan rupiah ke kisaran Rp 17.730 per dolar AS patut diapresiasi, tetapi lebih banyak didorong oleh respons kebijakan Bank Indonesia (BI) melalui kenaikan suku bunga dan intervensi stabilisasi pasar.
“Dengan kata lain, yang sedang terjadi adalah proses meredam tekanan, bukan karena fundamental ekonomi tiba-tiba mengalami perbaikan signifikan,” kata Yusuf saat dihubungi kumparan, Sabtu (20/6).
Ia pun menilai keputusan MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Markets memberikan kelegaan bagi pasar karena berhasil menghindari risiko penurunan status. Meski demikian, keputusan tersebut lebih berfungsi menghilangkan ketidakpastian dibandingkan menjadi katalis positif baru bagi pasar.
“MSCI masih memberikan sejumlah catatan terkait transparansi pasar, kualitas arus informasi, dan mekanisme pembentukan harga. Artinya, investor global masih menunggu bukti perbaikan sebelum meningkatkan eksposur mereka ke pasar Indonesia,” jelas Yusuf.
Investor Masih Pantau, Faktor Domestik Jadi Penting
Menurut dia, investor global masih menunggu bukti konkret atas perbaikan berbagai aspek tersebut sebelum meningkatkan eksposur investasinya di Indonesia. Karena itu, faktor domestik dan hasil evaluasi MSCI tidak dapat dipisahkan sebagai dua pilihan yang berdiri sendiri.
Ia kembali menjelaskan, faktor domestik seperti stabilitas rupiah, kebijakan BI, kondisi fiskal, dan pertumbuhan ekonomi berperan penting dalam menjaga kepercayaan pasar. Sementara itu, evaluasi MSCI menjadi indikator penting yang mencerminkan kualitas dan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor institusi global.
“Dalam jangka pendek, investor kemungkinan masih akan mencermati hasil evaluasi MSCI pekan depan karena hasil tersebut berpotensi memengaruhi persepsi risiko dan arah aliran dana asing,” jelas Yusuf.
Namun setelah itu, perhatian pasar diperkirakan akan kembali tertuju pada faktor-faktor domestik, terutama konsistensi kebijakan ekonomi, stabilitas nilai tukar, dan kemampuan regulator menindaklanjuti berbagai catatan yang diberikan MSCI.
“Jadi, saya melihat investor saat ini belum sepenuhnya beralih fokus ke salah satu faktor. Penguatan rupiah membantu memperbaiki sentimen dan menjaga stabilitas pasar, sementara evaluasi MSCI tetap menjadi agenda penting,” tutur Yusuf.
Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menilai hasil review MSCI merupakan perkembangan positif bagi reputasi pasar modal Indonesia sekaligus memperbaiki persepsi investor global terhadap investasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan keputusan tersebut, Indonesia terhindar dari risiko penurunan status menjadi Frontier Markets.
Ia menjelaskan, pasar saham Indonesia sempat mendapat tekanan setelah MSCI memutuskan menunda dan membekukan proses rebalancing indeks saham Indonesia pada 28 Januari 2026. Keputusan tersebut mendorong investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai US D740,78 juta sepanjang periode 28-30 Januari 2026.
Tekanan kembali terjadi setelah MSCI pada 12 Mei 2026 mengumumkan hasil tinjauan indeks yang mempertahankan pembekuan pasar Indonesia, yang memicu aksi jual investor asing dengan nilai net sell mencapai USD 478,51 juta di BEI.
“Ini menjadi bukti krusial bahwa keputusan dari lembaga internasional yang memiliki reputasi tinggi dapat mempengaruhi pergerakan investor global di pasar saham yang berstatus Emerging Markets, seperti Indonesia,” sebut Myrdal kepada kumparan.
Karena itu, ia berharap BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat langkah perbaikan, baik dari sisi tata kelola pasar maupun aturan mengenai kepemilikan saham publik atau free float minimum emiten.
“Urgensi tinggi untuk implementasi dari langkah tersebut, karena itu akan kembali membawa penilaian positif dari lembaga investasi asing seperti MSCI terhadap Bursa Efek Indonesia,” lanjut Myrdal.
Ia memperkirakan apabila berbagai reformasi tersebut berujung pada peningkatan penilaian MSCI dan kenaikan bobot investasi Indonesia dalam indeks global, maka pasar keuangan domestik berpotensi menerima aliran dana asing melalui instrumen portofolio atau hot money hingga sekitar USD 1 miliar.
Lebih lanjut, ia menilai masuknya dana asing tersebut tidak hanya berdampak positif terhadap pasar saham, tetapi juga berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS maupun mata uang asing lainnya, sekaligus menambah likuiditas dalam sistem keuangan nasional.
“Untuk minggu depan harusnya menguat bursa kita,” ucap Myrdal.
