Kumparan Logo

Moody's Turut Pangkas Outlook 5 Bank Besar di RI Jadi Negatif

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah papan nama lembaga pemeringkat Moody's terpampang di kantor pusat perusahaan tersebut di New York. Foto: Emmanuel Dunand/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah papan nama lembaga pemeringkat Moody's terpampang di kantor pusat perusahaan tersebut di New York. Foto: Emmanuel Dunand/AFP

Lembaga pemeringkat global, Moody’s Ratings, hari ini, Jumat (6/2), memangkas outlook kredit pada lima bank besar di Indonesia menjadi negatif, dari sebelumya stabil. Sebelumnya pada Kamis (5/2), Moody's juga memangkas outlook kredit Indonesia dari Stabil menjadi Negatif.

Lima bank yang outlook-nya direvisi menjadi negatif tersebut adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

"Langkah penilaian peringkat hari ini terutama mencerminkan outlook negatif atas peringkat kredit pemerintah Indonesia di level Baa2, yang menunjukkan meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia. Risiko tersebut tercermin dari menurunnya kepastian dan konsistensi dalam proses perumusan kebijakan, serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif sepanjang satu tahun terakhir," kata Clarabelle Tan, Analis Moody's.

Dia melanjutkan, jika kondisi tersebut berlanjut, tren penurunan kredit rating ini berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama terbentuk, yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan sistem keuangan.

video story embed

Meski demikian, Moody's menegaskan peringkat kredit pemerintah Indonesia tetap mempertimbangkan ketahanan ekonomi nasional, yang didukung oleh faktor struktural seperti basis sumber daya alam yang kuat dan demografi yang solid, sehingga menopang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang stabil dan kuat.

Jika peringkat kredit pemerintah Indonesia diturunkan, maka peringkat kredit lima bank Indonesia yang disebutkan di atas juga akan diturunkan. Untuk Bank Mandiri, BRI, dan Bank Central Asia, penurunan peringkat sovereign juga akan diikuti oleh penurunan Baseline Credit Assessment (BCA) dan Adjusted BCA yang bergerak sejalan dengan peringkat pemerintah.

Sementara itu, penurunan peringkat BNI dan BTN terutama didorong oleh berkurangnya faktor dukungan pemerintah (public support uplift). Selain itu, Counterparty Risk Rating (CRR) dan Counterparty Risk Assessment (CRA) milik Mandiri, BRI, BCA, dan BTN juga akan ikut diturunkan apabila peringkat kredit pemerintah Indonesia mengalami penurunan.

Ilustrasi uang rupiah. Foto: Aditia Noviansyah

Penilaian Moody's pada 5 Bank Besar RI

1. Bank Mandiri

Moody’s menilai peringkat deposito Baa2 dan BCA baa2 Mandiri mencerminkan modal yang masih memadai, pendanaan yang solid, dan profitabilitas tinggi. Namun, risiko muncul dari penurunan bantalan modal, eksposur kredit ke sektor komoditas dan sektor berisiko tinggi, serta tekanan kualitas aset di sejumlah segmen. Rasio modal berbasis tangible common equity (TCE) terhadap aset tertimbang menurut risiko (RWA) diperkirakan turun ke kisaran 14,5–15 persen pada 2026.

2. BRI

Peringkat BRI mencerminkan profitabilitas, permodalan, dan pendanaan yang sangat kuat. Namun, risiko aset diperkirakan tetap tinggi karena eksposur besar ke kredit UMKM. Profitabilitas BRI diperkirakan menurun pada 2026 seiring penurunan margin bunga bersih dan tingginya biaya kredit.

3. BNI

Peringkat BNI mempertimbangkan permodalan yang kuat, likuiditas moderat, dan struktur pendanaan yang stabil. Namun, profitabilitas dinilai relatif lebih rendah dibanding bank sekelasnya, akibat tekanan margin dan persaingan ketat di kredit korporasi. BNI masih memiliki risiko dari kredit restrukturisasi dan eksposur ke BUMN yang secara finansial rentan.

4. BCA

Peringkat BCA mencerminkan kualitas aset yang kuat dan profitabilitas sangat tinggi, didukung keunggulan di bisnis transaksi perbankan. Meski demikian, risiko utama berasal dari pertumbuhan kredit yang cepat di segmen korporasi dan UKM dalam beberapa tahun terakhir.

5. BTN

Moody’s menilai BTN memiliki risiko aset yang tinggi, tercermin dari besarnya kredit restrukturisasi dan tingkat pencadangan yang relatif rendah. Profitabilitas dan modal dinilai hanya memberikan bantalan terbatas terhadap risiko tersebut. Meski demikian, peringkat deposito BTN mendapat dukungan pemerintah yang kuat, mengingat peran strategis BTN dalam program perumahan nasional.

Moody’s menyatakan kecil kemungkinannya untuk menaikkan peringkat bank-bank tersebut, selama outlook pemerintah Indonesia masih negatif. Namun, outlook dapat kembali menjadi stabil apabila peringkat sovereign Indonesia ditegaskan di level Baa2 dengan outlook stabil.

"Sebaliknya, penurunan peringkat dapat kembali terjadi jika rasio permodalan dan profitabilitas bank melemah signifikan, kualitas aset memburuk, atau terjadi penurunan peringkat kredit pemerintah Indonesia," tambahnya.