Morgan Stanley: Pasokan Bensin AS Menuju Titik Terendah
·waktu baca 3 menit

Analis Morgan Stanley mengungkapkan persediaan bahan bakar bensin (gasoline) di Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan turun di bawah 200 juta barel pada akhir Agustus 2026.
Dikutip dari Bloomberg, dalam catatannya pada Senin, Morgan Stanley menyebutkan proyeksi persediaan bahan bakar terendah musiman ini merupakan indikasi terbaru bahwa krisis pasokan energi global tampaknya akan berlanjut selama beberapa bulan mendatang.
“Pasar bensin AS benar-benar ketat dan akan semakin ketat menjelang musim panas,” tulis analis Morgan Stanley, Martijn Rats, serta ahli strategi Charlotte Firkins dan Amy Gower.
Total persediaan bensin AS mencapai 222 juta barel pada akhir April 2026, menjadikannya sebagai angka terendah untuk periode waktu tersebut sejak 2014, menurut Badan Informasi Energi (EIA).
Dalam proyeksi skenario dasar Morgan Stanley, tren pasar saat ini sebagian sudah normal kembali, dan persediaan akan turun menjadi 198 juta barel pada akhir Agustus 2026. Angka tersebut lebih rendah daripada level untuk periode yang sama pada data modern mana pun, menurut catatan tersebut. Penurunan ini akan mendorong total stok bensin ke level terendah sejak Oktober 2012, menurut EIA.
Menurut catatan tersebut, tingkat persediaan yang cenderung serendah itu akan memperlebar selisih antara harga berjangka bensin dan harga berjangka minyak mentah Brent. Perbedaan harga yang dikenal sebagai selisih harga bensin (gasoline crack spread) — menjadi USD 40 per barel pada Juli 2026.
Persediaan bensin di AS pernah lebih rendah sebelumnya. Namun, penurunan pasokan bensin musiman selama musim panas, ketika permintaan biasanya meningkat karena warga Amerika banyak bepergian, dapat menaikkan harga pada saat konsumen sudah berjuang dengan biaya bahan bakar yang lebih tinggi.
Berdasarkan data American Automobile Association, secara rata-rata, para pengguna kendaraan di AS membayar USD 4,48 per galon di SPBU pada Senin.
Morgan Stanley mengatakan, penurunan stok AS kemungkinan besar merupakan akibat dari runtuhnya impor bensin ke Pantai Timur karena pasar global berebut untuk mendapatkan bahan bakar.
“Mekanisme pasokan ulang tradisional dari Eropa dan Timur Tengah pada dasarnya telah berhenti. Kiriman kargo dari Arab Saudi, Malaysia, dan ARA dalam jumlah besar tidak ada," jelasnya.
Sementara itu, margin keuntungan yang tinggi untuk bahan bakar diesel dan avtur, yang pasokannya semakin menipis akibat penutupan Selat Hormuz, mendorong kilang minyak untuk memproduksi lebih banyak bahan bakar tersebut daripada bensin.
Ekspor bensin AS juga tetap tinggi karena pembeli asing membeli barel yang seharusnya dikirim ke pasar domestik. Morgan Stanley menyebutkan permintaan bensin di AS tetap "tangguh".
Dalam skenario paling ekstrem, di mana kendala pasokan berlanjut selama satu atau dua bulan lagi, stok dapat turun hingga serendah 190 juta barel pada akhir Agustus, menurut catatan tersebut. Hal itu akan membuat selisih harga bensin terhadap minyak mentah Brent pada Juli mendekati USD 45 hingga USD 50 per barel.
Namun demikian, pembukaan kembali selat sepenuhnya akan membawa stok mendekati kisaran normal, dan impor dapat pulih terlepas dari itu karena pengiriman bensin dari Eropa ke Pantai Timur menjadi lebih menguntungkan.
