Kumparan Logo

Musim Mas Group Jawab Tantangan Petani Swadaya Sawit, Apa Saja?

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Musim Mas Group sedang memberikan pelatihan kepada para petani swadaya di Siak, Riau, Rabu (7/6).  Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Musim Mas Group sedang memberikan pelatihan kepada para petani swadaya di Siak, Riau, Rabu (7/6). Foto: Dok. Istimewa

Perusahaan kelapa sawit, Musim Mas Group membeberkan tantangan yang dihadapi pelaku industri sawit Indonesia, terutama bagi para petani swadaya.



Petani swadaya merupakanpetani sawit yang membiayai, mengelola, dan memperlengkapi secara mandiri, dan tidak terikat pada satu perusahaan mana pun. Di mana, petani swadaya biasanya mengelola lahan sawit di bawah 20 hektare.

General Manager of Programs & Projects Musim Mas Group, Robert Eugene Nicholls mengatakan, saat ini perusahaan aktif membangun budaya kelapa sawit yang berkelanjutan bagi para petani swadaya. Tujuannya untuk menepis kampanye negatif terhadap sawit Indonesia.

Peran petani swadaya sangat penting bagi kelangsungan industri sawit tanah air. Tercatat, saat ini 40 persen lahan sawit di Indonesia atau sekitar 6,4 juta hektare berada di tangan atau dikelola oleh petani swadaya. Jumlah tersebut akan terus bertambah dan diprediksi pada 2030, para petani swadaya bisa menguasai 60 persen lahan sawit Indonesia.

Dengan begitu, Musim Mas terus melakukan pelatihan kepada para petani swadaya di 6 provinsi di Indonesia yakni, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

“Program petani kami adalah yang terbesar di Indonesia,”

General Manager of Programs & Projects Musim Mas Group, Robert Eugene Nicholls kepada wartawan di Riau, Rabu (7/6).

Musim Mas Group sedang memberikan pelatihan kepada para petani swadaya di Siak, Riau, Rabu (7/6). Foto: Dok. Istimewa

Adapun saat ini sudah ada 41.400 petani swadaya yang terlibat di bawah Musim Mas Group dengan luas yang ter-cover mencapai 85.900 hektare.

Robert menjelaskan, program ini dimulai sejak 2015 bekerja sama dengan International Finance Corporation yang dikembangkan menjadi dua pendekatan atau program. Keduanya yakni program training for smallholders yang sudah dijalankan sejak 2017, dan program training for trainers: smallholders hub yang berjalan pada 2020.

“Melalui program ini, kami memberi pelatihan kepada para petani swadaya bermacam-macam mulai dari bagaimana meningkatkan produktivitas sawit seperti bibit, pupuk, hingga akses keuangan dan juga isu-isu sosial yang semuanya sesuai dengan UU yang berlaku,”

General Manager of Programs & Projects Musim Mas Group, Robert Eugene Nicholls.

Membantu Petani Swadaya Dapatkan Sertifikasi RSPO dan ISPO

Sertifikasi Rountable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) juga menjadi fokus Musim Mas kepada para petani swadaya.

Di mana 2 sertifikasi ini sangat penting sebagai standardisasi minyak sawit yang berkelanjutan agar bisa diakui secara global.

Robert mengaku, hingga saat ini masih banyak petani swadaya yang masih belum mengetahui adanya 2 sertifikasi tersebut dan bagaimana mendapatkannya. Untuk itu pihaknya menjembatani para petani untuk mendapatkan 2 sertifikasi tersebut agar bisa naik kelas.

embed from external kumparan

“Sehingga ini akan membantu para petani ke konsumen agar percaya bahwa minyak sawit yang mereka beli memang berkelanjutan,” katanya.

Tak hanya itu, perusahaan juga saat ini telah membina 4 asosiasi petani kelapa sawit yang tergabung dalam GAPSIMA (Gabungan Asosiasi Pekebun Sawit Inisiasi Musim Mas):

  • Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhanbantu (Sumut)

  • Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Negeri Seribu Kubah (Riau)

  • Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Pelalawan, Siak (Riau)

  • Perkumpulan Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Rokan Hulu (Riau)

Meski aktif membina, Robert menegaskan, pihaknya tidak memaksa para petani swadaya untuk menjual hasil sawitnya ke Musim Mas.