Kumparan Logo

Nasdaq Turun Dipicu Kekhawatiran Belanja AI, S&P 500 Ditutup Menguat Tipis

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Wall Street. Foto: Shutterstock

Saham-saham Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (24/7). Indeks Nasdaq melemah karena investor melepas saham-saham produsen chip di tengah kekhawatiran besarnya belanja untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, penurunan harga minyak membantu menahan pelemahan pasar meski konflik di Timur Tengah masih berlangsung.

Dikutip dari Reuters, Senin (27/7), Nasdaq yang didominasi saham teknologi turun setelah investor mencermati besarnya belanja modal perusahaan-perusahaan teknologi untuk AI menjelang rilis laporan keuangan emiten berkapitalisasi besar pekan depan.

Di sisi lain, indeks S&P 500 hanya naik tipis. Pelemahan sektor teknologi menjadi beban terbesar bagi indeks tersebut, dengan sektor teknologi S&P 500 turun 0,88 persen seiring merosotnya saham-saham produsen chip.

Perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan Microsoft, Amazon, Meta, dan Apple. Namun, optimisme pasar mulai memudar setelah Alphabet mengumumkan kenaikan signifikan belanja modalnya meski perusahaan masih menguras kas.

CEO Andersen Capital Management Peter Andersen mengatakan investor mulai mempertanyakan kapan besarnya investasi AI akan mulai menghasilkan keuntungan.

“Orang-orang mulai bertanya-tanya, bagaimana kita harus memaknai semua belanja ini, dan sampai kapan kita harus bersabar sebelum investasi tersebut benar-benar menghasilkan keuntungan?” kata Andersen.

“Rasa takut ketinggalan (fear of missing out/FOMO) kini berubah menjadi kekhawatiran akan terjadinya pembangunan kapasitas yang berlebihan dalam skala besar.”

Sentimen terhadap saham chip juga tertekan setelah Intel memproyeksikan laba dan pendapatan kuartalan di atas perkiraan Wall Street serta mengungkap rencana peningkatan belanja dalam dua tahun ke depan. Meski demikian, saham Intel tetap anjlok 7,9 persen, sejalan dengan indeks semikonduktor Philadelphia yang turun 4,5 persen.

Ilustrasi komponen chip. Foto: Saulo Ferreira Angelo/Shutterstock

Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average naik 235,60 poin atau 0,46 persen menjadi 51.947,25. S&P 500 menguat tipis 3,68 poin atau 0,05 persen ke level 7.411,98. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 161,87 poin atau 0,64 persen menjadi 24.975,82.

Secara mingguan, Dow Jones turun 0,4 persen dan mencatat pelemahan selama tiga pekan berturut-turut. Adapun S&P 500 turun 0,6 persen dan Nasdaq merosot 2 persen, masing-masing memperpanjang penurunan menjadi dua pekan beruntun.

Dari 11 sektor utama di S&P 500, sektor real estate menjadi yang berkinerja terbaik dengan kenaikan 2,4 persen. Kenaikan dipimpin oleh Digital Realty Trust yang melonjak 11 persen setelah menaikkan proyeksi dana operasional sepanjang tahun.

Sektor material menjadi sektor dengan kenaikan terbesar kedua, naik 1,44 persen. Penguatan ditopang saham perusahaan kertas dan kemasan, dengan International Paper melesat 11,2 persen dan Smurfit Westrock naik 11,1 persen.

Pasar juga mendapat sentimen positif dari turunnya harga minyak mentah sekitar 3 persen setelah pelaku pasar mengambil keuntungan usai reli selama lima sesi berturut-turut. Penurunan tersebut juga terjadi setelah muncul laporan bahwa China mendorong dimulainya kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Meski demikian, konflik di Timur Tengah masih berlanjut. Amerika Serikat meluncurkan rudal ke sejumlah target di Iran setelah Presiden Donald Trump mengancam akan memberikan “hukuman militer besar” kepada Teheran dan kelompok Houthi di Yaman.

Selain itu, pemerintahan Trump juga mulai menerapkan tarif baru sebesar 10 persen dan 12,5 persen terhadap barang dari 60 mitra dagang dengan alasan lemahnya penegakan larangan terhadap produk hasil kerja paksa. Kebijakan tersebut diberlakukan setelah tarif global sementara sebesar 10 persen berakhir.

Data ekonomi yang dirilis pada Jumat menunjukkan aktivitas sektor jasa Amerika Serikat meningkat pada Juli, didorong antara lain oleh belanja terkait Piala Dunia FIFA dan libur Hari Kemerdekaan. Sementara itu, pertumbuhan sektor manufaktur melambat ke level terendah sejak Maret.

Di luar sektor teknologi, saham perusahaan jasa ladang minyak SLB naik 11 persen setelah mencatat laba kuartal II yang melampaui ekspektasi pasar.