Bisnis
ยท
5 Maret 2019 8:08

Nasib AirAsia: Tiket di Traveloka Hilang, Muncul Lagi, dan Hilang Lagi

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Nasib AirAsia: Tiket di Traveloka Hilang, Muncul Lagi, dan Hilang Lagi (497288)
Pesawat AirAsia X Airbus A340 Foto: REUTERS/Charles Platiau
Maskapai penerbangan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) atau AirAsia ramai dibicarakan sejak tiket mereka hilang di dua aplikasi travel online (online travel agent/OTA) Traveloka dan Tiket.com pada pertengahan Februari 2019.
ADVERTISEMENT
Hilangnya tiket tersebut dari situs penjualan pihak kedua ini ternyata berbuntut panjang, yakni AirAsia memutuskan tak lagi bekerjasama dengan Traveloka. Di sisi lain, secara kinerja, perusahaan juga mengalami kerugian yang cukup besar sepanjang tahun 2018. Berikut rangkuman kumparan, Selasa (5/3).
  1. Tiket AirAsia Pertama Kali Hilang pada 14-17 Februari 2019
Awal mula tiket AirAsia menghilang di Traveloka terjadi pada 14-17 Februari 2019. Hilangnya penjualan tiket ini disadari oleh Head of Communication AirAsia Indonesia Baskoro Adiwiyono.
Kepada kumparan, dia juga mengaku heran terdapat hilangnya AirAsia di beberapa aplikasi travel online. Tapi, dia juga tidak tahu mengapa tiket yang mereka jual tidak ada di sana.
"Tapi memang sejak beberapa hari ini ajaibnya memang tiket kami menghilang dari beberapa OTA dengan sendirinya," kata dia.
Nasib AirAsia: Tiket di Traveloka Hilang, Muncul Lagi, dan Hilang Lagi (497289)
CEO AirAsia Indonesia, Dendy Kurniawan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
  1. Bos AirAsia Indonesia Sebut Tindakan Traveloka Cs Diskriminatif
ADVERTISEMENT
Tak hanya hilang pada Februari saja, pada 2 Maret 2019 pun tiket AirAsia kembali hilang dari Traveloka dan Tiket.com.
Direktur Utama AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan gerah atas sikap Traveloka. Sebab, perusahaan tidak memberikan penjelasan yang detail mengapa tiket mereka hilang, malah menyarakan pencari tiket mencari tiket maskapai lain. Dia menyebut Traveloka diskriminatif.
"Peniadaan beberapa penerbangan AirAsia Indonesia oleh Traveloka menunjukkan sikap diskriminatif dan berat sebelah," kata Dendy.
  1. AirAsia di 6 Negara Tarik Penjualan Tiket dari Traveloka
Akhirnya, AirAsia memutuskan menarik semua penjualan tiketnya dari Traveloka yang berlaku efektif 4 Maret 2019. Penarikan ini juga terjadi di 5 negara lainnya yang bekerja sama dengan Traveloka.
"Efektif kami suspend semua penjualan secara group semuanya di 6 negara, yaitu Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, India, dan Jepang," kata dia.
ADVERTISEMENT
Perusahaan pun meminta para pelanggan untuk mencari tiket AirAsia di situs resmi perusahaan.
Nasib AirAsia: Tiket di Traveloka Hilang, Muncul Lagi, dan Hilang Lagi (497290)
Kantor baru Traveloka di Bangalore, India. Foto: Traveloka
  1. Traveloka Akhirnya Angkat Bicara
Setelah AirAsia menarik diri secara permanen, Traveloka pun akan bicara. Public Relation Director Traveloka Sufintri Rahayu mengatakan bahwa Traveloka masih berupaya agar para pelanggan dapat kembali menikmati pilihan maskapai yang selama ini tersedia. Dia pun menyayangkan tindakan AirAsia yang menarik penjualan secara permanen.
"Pada saat yang bersamaan, kami telah meminta waktu untuk berdialog dengan AirAsia sejak akhir pekan ini agar mendapatkan solusi terbaik untuk kedua belah pihak," kata dia.
Meski begitu, Traveloka tidak menjelaskan mengapa tiket AirAsia hilang pada Februari lalu. Padahal, hilangnya tiket ini menjadi penyebab AirAsia enggan bekerjasama lagi dengan Traveloka.
ADVERTISEMENT
  1. AirAsia Indonesia Rugi Rp 907 Miliar Sepanjang 2018
Di tengah masalah yang dihadapi dengan Traveloka hingga Tiket.com, kinerja keuangan AirAsia sepanjang tahun lalu juga tidak begitu menggembirakan.
Dalam laporan keuangannya, AirAsia mengalami kerugian (unaudited) senilai Rp 907,30 miliar sepanjang tahun buku 2018. Rugi setelah pajak ini meningkat 95 persen dibandingkan pada 2017 senilai Rp 465,58 miliar.
Penyebab kerugian yang membengkak tahun lalu ternyata karena harga avtur yang mahal, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah.
Sepanjang 2018, biaya avtur bengkak 53 persen, biaya lain-lain naik 31 persen, dan biaya perbaikan pesawat naik 30 persen. Gejolak kurs rupiah juga memicu beban perusahaan (rugi kurs) meningkat hingga 238 persen sepanjang 2018.
ADVERTISEMENT