Kumparan Logo

Nelayan Babak Belur, Harga Ikan Anjlok hingga 50 Persen Selama Pandemi Corona

kumparanBISNISverified-green

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kapal nelayan lokal. Foto: Dok: KKP
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kapal nelayan lokal. Foto: Dok: KKP

Pandemi corona yang merebak di Indonesia selama hampir dua bulan ikut memukul pelaku usaha dan pekerja di sektor perikanan. Pengusaha dan nelayan mengaku kesulitan menjual ikan hasil tangkapan seiring dengan permintaan yang melemah.

Tak hanya itu, kebijakan karantina wilayah atau lockdown di beberapa negara tujuan ekspor pun menjadikan stok di dalam negeri menumpuk, sehingga harga ikan kian merosot.

Menteri Kelautan dan Perikanan Periode 2001-2004 Rokhmin Dahuri mengatakan, kondisi-kondisi ini menyebabkan harga perikanan tangkap pun anjlok hingga 50 persen.

“Dari demand, daya beli menurun. Orang yang biasanya makan ikan di resto sekarang enggak bisa. Saya terima laporan, harga rajungan babak belur. Dari awalnya Rp 300 ribu per kg sekarang Rp 100 ribu per kg. Kemudian saya lihat di laporan, ikan tenggiri dari Rp 100 ribu per kg sekarang Rp 50 ribu per kg,” ungkap Rokhmin dalam konferensi pers virtual, Minggu (17/5).

Bahkan di Bitung, harga ikan tuna segar di level nelayan juga turun drastis. Dari awalnya Rp 60 ribu per kg kini menjadi hanya Rp 36 ribu per kg.

Rokhmin Dahuri. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Tak hanya untuk ikan tangkap, menurut Rokhmin pandemi ini juga berdampak pada perikanan budidaya. Hanya saja dampaknya tidak sebesar perikanan tangkap. Misalnya udang vaname pun turun harga. Untuk udang ukuran 50 ekor per kg harganya turun dari Rp 80 ribu per kg menjadi Rp 70 ribu per kg.

Kemudian ikan gurame dari Rp 26 ribu per kg kini turun menjadi Rp 24 ribu per kg. Termasuk juga ikan lele dari Rp 16 ribu per kg menjadi Rp 14 ribu per kg. “Fokus utamanya di sisi market atau demand,” ujar Rokhmin.

Untuk itu Rokhmin berharap, ada bantuan dari masyarakat khususnya milenial untuk ikut serta menyerap produk perikanan. Menurutnya, peran milenial ini sangat penting terutama untuk mengolah perikanan tangkap dan budidaya menjadi produk yang punya nilai jual lebih.

“Misalnya bisnis sate tuna. Staf saya jualan sate tuna per hari bisa 150 pack untungnya 70 persen. Masalah ini enggak mungkin tertanggulangi oleh pemerintah sendiri. Kalau kita milenial bantu di pemasaran, kalau dilakukan banyak orang tentu akan bantu memasarkan produk nelayan,” ujarnya.

Terakhir, Rokhmin berharap pemerintah juga bisa menjamin kelancaran arus logistik dan konektivitas. Sehingga truk angkut bisa tetap beroperasi secara normal untuk mendistribusikan ikan dari tangan nelayan hingga ke masyarakat. “Truk angkut untuk pangan dan perikanan harus dibebaskan dari aturan PSBB namun tetap memperhatikan protokol kesehatan,” ujarnya.