Kumparan Logo

Neraca Perdagangan Surplus, Ekspor Komoditas Turunan Nikel Rp 184,6 Triliun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Smelter nikel PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM). Foto: PT Antam
zoom-in-whitePerbesar
Smelter nikel PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM). Foto: PT Antam

Neraca perdagangan kembali mengalami surplus pada Agustus 2022. Sektor industri turut berperan signifikan dalam kinerja ekspor tersebut.

Adapun industri pengolahan yang mencatatkan nilai ekspor sebesar USD 139,23 sepanjang Januari-Agustus 2022, atau naik 24,03 persen dibandingkan Januari-Agustus tahun 2021. Sektor industri tetap memberikan kontribusi paling besar, dengan sumbangsihnya hingga 71,55 persen terhadap total nilai ekspor nasional yang menembus USD 194,60 miliar.

“Kinerja ekspor dari sektor industri manufaktur masih terus melambung, meskipun berada di tengah risiko ketidakpastian kondisi global yang membayangi ekonomi nasional,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Minggu (18/9).

Menperin menegaskan, sektor industri manufaktur konsisten memberikan andil yang besar terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia. Menurutnya, neraca perdagangan surplus selama 28 bulan berturut-turut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dalam pemulihan ekonomi berada pada jalur yang tepat.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan secara kumulatif pada Januari-Agustus 2022 mengalami surplus sebesar USD 34,92 miliar atau setara Rp 522,19 triliun (asumsi kurs Rp 14.954 per dolar AS) tumbuh 68,6 persen dibandingkan Januari - Agustus 2021.

“Surplus neraca perdagangan tidak terlepas dari program hilirisasi industri yang terus kami jalankan, guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di Indonesia,” tuturnya.

Nilai ekspor komoditas turunan nikel pada Januari-Agustus 2022 yang mencapai USD 12,35 miliar atau setara Rp 184,68 triliun, tumbuh hingga 263 persen jika dibandingkan tahun 2019, sebelum pemberlakukan larangan ekspor bijih nikel yang hanya mencapai USD 3,4 miliar.

“Enam tahun yang lalu, ekspor kita dari nikel kira-kira hanya USD 1,1 miliar. Sedangkan, pada tahun 2021 sudah mencapai USD 20,9 miliar. Artinya, nilai tambah lompatannya hingga 19 kali,” ujarnya.

Agus menyampaikan, pemerintah terus memacu tumbuhnya industri smelter yang terbukti memberikan multiplier effect yang luas bagi perekonomian nasional. BPS juga mencatat industri pengolahan menjadi kontributor terbesar.

Menurut sektornya, nilai ekspor industri pengolahan mencapai USD 19,79 miliar pada Agustus 2022. Sektor manufaktur ini mengalami pertumbuhan 13,49 persen apabila dibandingkan dengan nilai posisi pada Juli 2022.

“Kenaikan ekspor ini didorong oleh komoditas minyak kelapa sawit, besi baja, peralatan listrik, kendaraan dan bagiannya, serta turunan nikel,” imbuh Agus.

Sampai saat ini, Kementerian Perindustrian fokus memacu hilirisasi industri berbasis agro, bahan tambang mineral, serta migas dan batu bara. Agus mencermati banyak manfaat yang telah didapatkan Indonesia dari implementasi kebijakan hilirisasi, yakni memberikan nilai tambah, memperkuat struktur industri, menyediakan lapangan pekerjaan, dan memberikan peluang usaha.

“Melalui hilirisasi, Indonesia tidak lagi menjual barang mentah, namun sudah diolah baik itu produk setengah jadi maupun menjadi produk akhir,” imbuhnya.

Di samping itu, kondisi pengoperasian sektor manufaktur Tanah Air terus membaik dalam 12 bulan terakhir. Hal ini tercermin dari indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia bulan Agustus 2022 yang mencapai 51,7 atau menguat dari angka 51,3 di bulan sebelumnya.

“PMI Manufaktur Indonesia terus menunjukkan peningkatan di tengah menurunnya indeks tersebut di negara-negara Asia lainnya, seperti Korea Selatan (49,8 di Juli 2022 menjadi 47,6) dan Jepang (52,1 pada Juli 2022 menjadi 51,5),” pungkasnya.