Nyaris Rp 200 Triliun Dana dari Sektor Migas Tersimpan di Bank BUMN
ยทwaktu baca 3 menit

Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) mencatat dana dari sektor usaha minyak dan gas yang tersimpan di bank BUMN nyaris Rp 200 triliun. Dana ini kemungkinan akan terus bertambah seiring dengan banyaknya wilayah kerja hulu migas di Indonesia.
Direktur Hubungan Kelembagaan dan BUMN PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau Bank BRI, Agus Noorsanto hulu migas dan bisnis penunjangnya menjadi salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional, meski bauran energi baru dan terbarukan semakin meningkat, sektor hulu migas masih akan jadi andalan.
Salah satu sumber dana migas itu adalah dana dana Abandonment and Site Restoration (ASR) yang berasal dari kontraktor migas (KKKS) mencapai USD 2,2 miliar atau Rp 32 triliun.
Dana ASR merupakan akumulasi dana yang dicadangkan untuk melaksanakan kegiatan pemulihan pascatambang wilayah kerja migas. Dana ini dikumpulkan di dalam rekening bersama antara SKK Migas dan KKKS.
"Dana di bidang migas cukup besar, mendekati Rp 200 triliun di Himbara dan tentu ini bisa dikembalikan lagi menjadi pembiayaan ke sektor hulu migas," kata Agus dalam Webinar Peran Perbankan Nasional dalam Menunjang Kegiatan Hulu Migas, Kamis (19/8).
Sementara itu, berdasarkan data Statistik Perbankan Nasional, porsi pembiayaan sektor pertambangan pada kuartal I 2021 sebesar Rp 128 triliun atau sekitar 12,9 persen dari total pembiayaan secara nasional. Dari sisi non performing loan (NPL) cukup terjaga di 5 persen.
"Melihat ini, benar yang disampaikan Pak Kepala SKK Migas (Dwi Soetjipto) kalau industri hulu migas bukan sunset industry tapi sunrise industry. Karena itu, Himbara siap meningkatkan pembiayaan hulu migas dengan produksi 1 juta barel minyak," katanya.
Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menyampaikan bahwa program 1 juta barrel menunjukkan dukungan Pemerintah bagi industri hulu migas nasional. Kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh kalangan perbankan, termasuk Himbara.
Ada 131 wilayah kerja di seluruh Indonesia dengan investasi hulu migas dalam beberapa tahun terakhir berada di kisaran USD 10 miliar - USD 12 miliar. Karena itu, untuk mewujudkan target 1 juta barel produksi minyak, perlu dukungan berbagai pihak, termasuk kalangan perbankan nasional.
"Ini adalah peluang bagi industri perbankan untuk meningkatkan penyaluran pembiayaan sekaligus berperan memajukan perekonomian nasional," katanya dalam kesempatan yang sama.
Pelaku Usaha Hulu Migas Perlu Portal Khusus di Bank BUMN
Sementara itu, VP Finance and Support Services ExxonMobil Cepu, Florentina Hatmi mengatakan, pelaku usaha hulu migas perlu portal khusus di bank BUMN agar lebih mudah memantau segala bentuk transaksi yang berhubungan dengan bank.
Sebagai perusahaan migas swasta yang sudah ada puluhan tahun di Indonesia, ExxonMobil juga menyimpan uang di bank-bank BUMN seperti aturan pemerintah. Dia juga berharap bank-bank BUMN meningkatkan layanan digitalisasi lebih baik lagi seperti bank asing, salah satunya tidak perlu lagi ada pengisian dokumen berulang kali setiap akan transaksi.
"Masukan buat bank, bank punya portal setiap korporasi sehingga bisa langsung dipantau KKKS misalnya ada outstanding issue dan lainnya," kata Florentina.
Menurut dia, kebutuhan lainnya dari KKKS adalah agar perbankan memberikan kemudahan akses dana tunai untuk mereka dan vendor seperti kelas menengah dan kecil. Tujuannya untuk menghindari kredit macet, terutama di masa pandemi.
