Kumparan Logo

OJK Beberkan Dampak Buruk Pakai PayLater: Susah Dapat KPR

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Paylater. Foto: Przemek Klos/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Paylater. Foto: Przemek Klos/Shutterstock

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dengan paylater.

“Masyarakat juga berhati-hati pada performance keuangannya. Misalnya sekarang ada buy now paylater terus kemudian ada macam-macam yang kemudian beli barang-barang konsumtif dengan utang dan lain-lain, akhirnya engga bisa bayar,” kata wanita yang akrab disapa Kiki di Tanah Datar Sumatera Barat, Kamis (22/6).

Kiki menjelaskan, jika performa keuangan masyarakat turun, maka akan berpengaruh pada Sistem Layanan Informasi Keuangan OJK (SLIK OJK) atau yang dikenal BI Checking.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi. Foto: OJK

“Masuk ke SLIK namanya jelek. Ketika mengajukan pinjaman-pinjaman yang sebenarnya lebih dibutuhkan seperti KPR pertama, tadi mungkin KUR engga bisa lagi karena namanya udah nyangkut,” tutur Kiki.

Kiki menegaskan, cara agar menyelesaikan persoalan SLIK dengan membayar piutang agar nama peminjam utang bersih.

“Diselesaikan. Kalau punya utang piutang diselesaikan dulu. Kemudian nanti bukunya akan bersih,” tuturnya.

Infografik Jangan Khilaf Pakai PayLater. Foto: kumparan

Hingga 31 Mei 2023, OJK telah menerima 121.415 permintaan layanan, termasuk 8.428 pengaduan, 35 pengaduan berindikasi pelanggaran, dan 713 sengketa yang masuk ke dalam LAPS Sektor Jasa Keuangan (SJK).

Dari pengaduan tersebut, sebanyak 4.438 merupakan pengaduan sektor IKNB, 3.949 merupakan pengaduan sektor perbankan, dan sisanya merupakan layanan sektor pasar modal.

Kinerja fintech peer to peer (P2P) lending pada April 2023 masih mencatatkan pertumbuhan dengan outstanding pembiayaan tumbuh sebesar 30,63 persen yoy menjadi senilai Rp 50,53 triliun.