OJK: Jangan Sampai Emak-emak Ciptakan Sandwich Generation

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, mengimbau para ibu-ibu untuk memutus sandwich generation.
Generasi sandwich merupakan fenomena orang dewasa yang harus menanggung hidup 3 generasi yaitu orang tuanya, diri sendiri, dan anaknya.
Berdasarkan berbagai sumber, generasi sandwich terjadi pada seseorang baik wanita maupun pria yang memiliki rentan umur dari 30 hingga 40 tahun.
“Jangan sampai kita menciptakan sandwich generation ya bu. Kita yang hidup saat ini termasuk sandwich karena menanggung membesarkan anak dan orang tua, kita bersyukur memang bisa diberi kesempatan mengurus orang tua,” ujar wanita yang akrab disapa Kiki dalam acara Edukasi Keuangan bagi Perempuan UMKM di Aula Serba Guna Perpusnas Jakarta, Selasa (23/4).
“Tapi kalau bisa, kita jangan menciptakan generasi sandwich generation berikutnya. Kalau kita sudah menyekolahkan anak, jangan berharap 'anak-anak yang nanti menyokong hidupku nanti kalau tua',” jelasnya.
Kiki mengingatkan para ibu-ibu harus menyiapkan masa pensiun dan jangan sampai pola hidup sandwich generation turun ke generasi selanjutnya. Alternatif investasi dapat melalui instrumen emas, reksadana, dan lain-lain.
“Kita semua mumpung masih kuat, berjiwa muda, insya allah kita bisa menyiapkan masa depan lebih baik,” terang Kiki.
Kiki menegaskan para ibu-ibu harus terliterasi maupun memahami inklusi keuangan dalam menggunakan produk jasa keuangan sehingga memudahkan hidup. Ia meminta mereka agar tidak memanfaatkan rentenir untuk sumber pengeluaran.
“Memang kalau rentenir itu hati-hati bu, lebih agresif. Lebih kayaknya 'ibu jualan saja' tapi bunganya itu luar biasa mencekik leher. Ibu-ibu jangan sampai keliru mencapai akses pembiayaan di tempat yang salah,” terang Kiki.
Masih banyak produk jasa keuangan yang menjadi alternatif oleh para bunda, contohnya produk dari PT Pegadaian sampai PT Permodalan Nasional Madani (PNM).
Di sisi lain, Kiki mengungkap literasi keuangan untuk para ibu-ibu juga dilakukan dengan urgensi lain yakni peran ibu rumah tangga menjadi guru pertama dan sosok yang memprioritaskan keuangan keluarga.
