Kumparan Logo

OJK: Pelemahan Rupiah Jangan Ditanggapi Berlebihan

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (Foto: Dewi Kusuma/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (Foto: Dewi Kusuma/kumparan)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat anjlok hingga ke level Rp 13.800 pada Kamis (1/3). Ini merupakan level terendah rupiah sejak awal tahun ini.

Bank Indonesia (BI) langsung melakukan intervensi di pasar keuangan dengan menggelontorkan cadangan devisa hingga akhirnya pelemahan rupiah bisa diredam. Dolar AS perlahan menjinak meskipun posisinya masih tinggi di kisaran Rp 13.750.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan, pelemahan rupiah jangan ditanggapi berlebihan. Hal tersebut hanya bersifat sementara, reaksi pasar atas pernyataan Ketua Bank Sentral AS Jerome Powell yang memberi sinyal akan kenaikan suku bunga The Fed yang diperkirakan dilakukan sebanyak 4 kali secara bertahap di tahun ini.

"Ini temporer seperti pada saat tapering Mei 2013, itu seperti sekarang, nanti The Fed akan naikkan suku bunga, itu sudah heboh duluan padahal belum terjadi, market ya memang begitu, jangan sampai kena pancing, market bergejolak, sebenernya enggak ada apa-apa, akhirnya (volatilitas rupiah) ya reda," ujarnya dalam diskusi bersama Redaktur Media Massa di Hilton Hotel, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (3/3).

Sosok Soekarno dan Hatta dalam mata uang pecahan Rp 100.000 yang baru (Foto: Fanny Kusumawardhani)
zoom-in-whitePerbesar
Sosok Soekarno dan Hatta dalam mata uang pecahan Rp 100.000 yang baru (Foto: Fanny Kusumawardhani)

Meski demikian, Wimboh mengungkapkan, Indonesia juga perlu antisipasi jika sewaktu-waktu The Fed menaikkan suku bunganya secara mendadak.

OJK meyakini, BI sebagai otoritas moneter sudah mengantisipasi potensi keluarnya dana asing jika The Fed menaikkan suku bunga.

Pelemahan rupiah saat ini terjadi karena banyaknya investor yang melakukan pembelian dolar AS untuk mengamankan portofolio mereka. Rencana naiknya suku bunga The Fed menjadi daya tarik investor untuk menyimpan dananya di instrumen dolar AS karena memiliki imbal hasil yang lebih menarik.

"Kalau rupiah itu melemah, itu pengaruhnya terjadi pada pembelian dolar, pelemahan rupiah efek dari pembelian dolar, dilakukan biasanya investor portofolio, itu dia price in dulu, pergi dulu, tapi tentu ini pasti balik lagi, hanya sesaat, normal lagi," paparnya.

Namun, kata Wimboh, perilaku investor ini masih dalam batas aman dan tidak akan memicu kepanikan atau krisis ekonomi seperti di tahun 1997-1998 atau 2008, di mana dana asing ditarik ke luar secara besar-besaran.

"Ini tidak mengkhawatirkan seperti 97-98, itu jauh, cadev (cadangan devisa) kita bagus USD 130 miliar, kita jauh dari kondisi 2008, dan 2008 pun aman, ada sedikit fluktuasi cuma managable, jadi enggak perlu dikhawatirkan, ada angin sedikit ya, itu tadi investor portofolio memindahkan dananya," ucap Wimboh.