Kumparan Logo

OJK: Peran UMKM Penting dalam Pemulihan Ekonomi, Tapi Akses Pembiayaan Baru 74%

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perajin mengangkut tempat tidur bayi berbahan rotan pesanan pelanggan di kiosnya, Jakarta, Selasa (18/5/2021). Foto: Indrianto Eko Suwarso/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Perajin mengangkut tempat tidur bayi berbahan rotan pesanan pelanggan di kiosnya, Jakarta, Selasa (18/5/2021). Foto: Indrianto Eko Suwarso/Antara Foto

Akses pembiayaan bagi UMKM di Indonesia hingga saat ini dinilai belum maksimal. Padahal UMKM menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.

Kepala Bagian Group Inovasi Keuangan Digital (GIKD) OJK, Bagus Kurniawan, mengatakan baru 74 persen UMKM yang telah memiliki akses pembiayaan.

"Padahal UMKM berkontribusi sekitar 60 persen terhadap PDB nasional dan 58 persen pada total investasi di Indonesia," ujar Bagus dalam webinar Kredivo, Selasa (10/8).

Menurut dia, akses pendanaan bagi UMKM harus terus ditingkatkan. Sebab UMKM juga sangat berperan dalam upaya pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

"Karenanya membuka akses pembiayaan dan pendanaan alternatif pada UMKM, memegang peranan penting dalam upaya pemulihan ekonomi nasional," kata dia.

Sementara terkait tingkat literasi keuangan, berdasarkan survei yang dilakukan OJK tahun 2019, baru mencapai 38 persen dengan tingkat inklusi keuangan nasional sebesar 76 persen.

Angka inklusi itu, kata dia, masih kalah jauh dibanding negara tetangga di kawasan ASEAN, seperti Singapore yang mencapai 98 persen dan Malaysia di 85 persen.

Ilustrasi transformasi digital dan UMKM. Foto: Devi Puspita Amartha Yahya/Unsplash

"Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak segmen masyarakat yang belum mendapat layanan keuangan dengan optimal dan masih banyak ruang bagi sektor jasa keuangan dapat membantu pemulihan perekonomian nasional khususnya melalui layanan keuangan digital," tuturnya.

Saat ini kata dia, digitalisasi di sektor keuangan banyak digunakan hanya untuk pembayaran tagihan. Sementara untuk investasi secara online masih rendah.

"Penggunaan layanan digital yang paling besar atau sebesar 66 persen dari total diketahui untuk bayar tagihan. Sementara hanya 4,3 persen saja yang dilakukan untuk investasi online. Ini sangat disayangkan," ujarnya.