OJK: Program PLTS 100 GW Bisa Jadi Peluang Baru untuk Bisnis Asuransi

Pemerintah telah merencanakan program pembangunan PLTS Hingga 100 GW kurang dari tiga tahun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai program tersebut bisa menjadi peluang baru bagi bisnis asuransi umum.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono menjelaskan industri asuransi nantinya bisa memberi dukungan perlindungan baik dari sisi risiko pembangunan sampai operasional proyek.
“Pengembangan proyek strategis nasional pada prinsipnya dapat menjadi peluang bagi industri asuransi umum nasional, khususnya dalam mendukung perlindungan risiko pembangunan dan operasional proyek. Proyek berskala besar juga dapat menjadi momentum bagi industri untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknis dalam mengelola risiko energi,” kata Ogi dalam keterangan tertulis, Selasa (8/9).
Meski demikian, ia menilai besarnya nilai dan kompleksitas proyek juga menjadi tantangan bagi kapasitas asuransi nasional. Untuk itu, ia melihat jika industri asuransi ingin memanfaatkan program tersebut menjadi perluasan bisnis maka diperlukan konsorsium sampai dukungan dari reasuransi.
“Karena itu, optimalisasi kapasitas domestik dapat dilakukan melalui konsorsium dan dukungan reasuransi, termasuk reasuransi internasional untuk risiko yang belum dapat ditanggung di dalam negeri,” ujarnya.
Dengan begitu, Ogi menilai royek-proyek strategis tersebut diharapkan tidak hanya menjadi peluang bisnis, tetapi juga mendorong penguatan kapasitas industri asuransi nasional secara berkelanjutan.
Sebelumnya, pemerintah telah menyiapkan investasi sekitar USD 73 miliar untuk merealisasikan program tersebut. Program tersebut ditargetkan menjadi salah satu langkah besar pemerintah dalam memperkuat kedaulatan energi sekaligus menekan emisi karbon.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan total investasi yang dibutuhkan untuk program PLTS 100 GW mencapai kurang lebih USD 73 miliar. Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp 1.143 triliun.
“Total investasinya Bapak Presiden Dari 100 gigawatt adalah kurang lebih sekitar USD 73 miliar atau setara dengan Rp 1.143 triliun lebih,” kata Bahlil.
Selain membutuhkan investasi dalam jumlah besar, program tersebut diproyeksikan memberikan dampak ekonomi melalui penghematan subsidi energi dan penciptaan lapangan kerja. Bahlil menyebut program 100 GW dapat menghasilkan efisiensi subsidi sekitar Rp 73,9 triliun setiap tahun serta menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja.
Dari sisi lingkungan, pemerintah memperkirakan pengembangan PLTS dalam skala tersebut dapat menurunkan emisi karbon secara signifikan. Bahlil menyebut penurunan emisi yang berpotensi dicapai mencapai 140 juta ton CO2 setiap tahun.
Program tersebut juga dirancang untuk dilaksanakan secara masif dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah tidak hanya mengandalkan pembangunan pembangkit skala besar, tetapi juga mendorong penetrasi energi surya ke wilayah yang selama ini belum mendapatkan akses listrik.
