Kumparan Logo

OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan RI Sepanjang Tahun Ini Masih Tetap Terjaga

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gedung Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gedung Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Ghinaa Rahmatika/kumparan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga hingga September 2026. Hal ini berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan yang digelar pada 30 September 2026.

“Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan pada 30 September 2026 menilai sektor jasa keuangan Indonesia stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global,” kata Ketua DK OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam konferensi pers RDKB yang dilaksanakan secara daring, Senin (5/10).

Friderica mengatakan, pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2026 diproyeksikan lebih rendah dibandingkan tahun 2025, meskipun hasilnya masih lebih baik dari perkiraan sebelumnya berkat dorongan peningkatan investasi dan aktivitas perdagangan berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI).

Kendati demikian, keberlanjutan momentum pertumbuhan tersebut dinilai masih membentur tantangan akibat kembali melonjaknya inflasi global yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik yang menaikkan harga minyak dunia, serta fenomena El Nino yang berisiko melambungkan harga pangan dan komoditas pertanian.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Indonesia (RP3I) 2026-2030 di Denpasar, Jumat (2/10/2026). Foto: Dok. OJK

“Kenaikan inflasi telah mendorong kebijakan suku bunga global yang higher for longer ditandai dengan kenaikan suku bunga kebijakan di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang dengan pasar masih mengekspektasikan kenaikan suku bunga di akhir tahun 2026 dan terus berlanjut di tahun 2027,” jelas Friderica.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah global dilaporkan menyentuh level tertinggi dalam satu dekade terakhir, bahkan obligasi AS dan Eropa kembali ke level pra-2008 serta Jepang ke level pra-1997 akibat tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah dan maraknya penerbitan obligasi jangka panjang oleh perusahaan hyperscalers demi mendanai investasi AI.

Friderica kemudian membeberkan kondisi dari dalam negeri, di mana indikator terbaru mengindikasikan kondisi perekonomian nasional masih berada dalam posisi yang kuat dengan tingkat inflasi yang terjaga stabil.

“Terjaganya inflasi mendorong permintaan domestik dan tingkat konsumsi masyarakat tetap kuat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional,” lanjut Friderica.

Sejalan dengan perkembangan positif itu, Friderica menyatakan OECD turut menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 sebesar 0,5 persen, menunjukkan kepercayaan global terhadap daya tahan perekonomian nasional.

“Tentunya perkembangan positif tersebut didukung oleh sektor keuangan yang terus kontributif terhadap pertumbuhan serta stabilitas sektor keuangan yang tetap terjaga dengan fundamental industri jasa keuangan yang solid,” tutur Friderica.

instagram embed