Kumparan Logo

OJK: Sektor Jasa Keuangan RI Tetap Terjaga hingga Agustus 2026

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari mendengarkan pandangan fraksi saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari mendengarkan pandangan fraksi saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga hingga Agustus 2026. Hal ini berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan yang digelar pada Senin (7/9) 2026.

“Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan pada 26 Agustus 2026 menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan terjaga,” Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers RDKB yang dilaksanakan secara daring, Senin (7/9).

Meski demikian, Kiki menyampaikan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah tetap tinggi seiring dengan konflik di Iran dan masih ditutupnya Selat Hormuz.

Gangguan jalur distribusi energi tersebut, kata Kiki, menyebabkan volatilitas harga minyak dan komoditas, sehingga tekanan inflasi global tetap tinggi.

“Tekanan inflasi diperberat oleh El Nino yang berkepanjangan dan berdampak pada kekeringan serta kebakaran hutan di berbagai kawasan,” katanya.

Kiki mengatakan, momentum pertumbuhan ekonomi global cenderung termoderasi, hal itu tercermin dari mayoritas negara yang mencatatkan perlambatan pertumbuhan pada kuartal II tahun 2026.

Di Amerika Serikat (AS), pertumbuhan ekonomi turun dan berada di bawah ekspektasi, disertai pasar tenaga kerja yang termoderasi dan inflasi yang tetap tinggi meski dalam tren yang menurun.

Ilustrasi OJK. Foto: Shutterstock

Sementara Tiongkok, Kiki melanjutkan, pertumbuhan PDB kuartal II 2026 melambat menjadi 4,3 persen year-on-year (yoy) dengan data mengindikasikan pelemahan yang masih berlanjut baik pada sektor produksi maupun permintaan domestik.

“Di pasar keuangan global, imbal hasil obligasi pemerintah negara maju melanjutkan kenaikan yang didorong oleh meningkatnya kebutuhan pendanaan belanja modal hyperscale di tengah kebijakan moneter yang tetap restriktif,” tuturnya.

Lebih lanjut, dari sisi domestik, katanya, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 tercatat tetap kuat dengan tumbuh sebesar 5,29 persen yoy, didukung investasi dan belanja pemerintah.

Konsumsi rumah tangga yang kuat juga masih menjadi penopang utama pertumbuhan. Inflasi Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen yoy dan aktivitas manufaktur berada pada zona kontraksi di level PMI 49,8.

instagram embed