kumparan
search-gray
Bisnis9 April 2020 17:30

Omzet Ritel Fashion Anjlok 98 Persen, Karyawan Matahari dan Ramayana Jadi Korban

Konten Redaksi kumparan
Omzet Ritel Fashion Anjlok 98 Persen, Karyawan Matahari dan Ramayana Jadi Korban (319792)
Matahari Store di Pasaraya Blok M Foto: Ainul Qalbi/kumparan
Arahan pemerintah untuk social distancing agar penyebaran virus corona tertekan menyebabkan penjualan ritel fashion anjlok. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) melaporkan, penjualan ritel tersebut turun hingga 98 persen.
ADVERTISEMENT
Sekretaris Jenderal Aprindo, Solihin mengatakan, ritel departement store terutama yang menjual produk fashion paling terdampak karena di masa penanganan virus corona, masyarakat lebih banyak mencari kebutuhan pangan. Padahal, seharusnya saat ini penjualan di ritel fashion naik karena menyambut Ramadan dan Lebaran.
"Sekarang turunnya sudah tajam ya terutama ritel fashion ya, 98 persen," kata dia saat dihubungi kumparan, Kamis (9/4).
Solihin mengatakan saat pusat perbelanjaan ditutup, toko fashion bisa saja menjual produk mereka secara online. Tapi, menurutnya upaya itu tak akan menutup kerugian perusahaan sebab tak sebanding dengan penjualan toko saat kondisi normal.
Diversifikasi penjualan produk ritel dari offline ke online saat ini tak akan bisa menutup biaya perusahaan dan kewajiban membayar karyawan mereka. Meski begitu, ritel lain yang menjual makanan dan stok pangan masih tetap buka karena dikecualikan oleh pemerintah.
ADVERTISEMENT
"Padahal ini jelang Lebaran yang mungkin hampir semua penjualan sebenarnya bakal naik dalam kondisi normal. Aprindo prihatin karena penjualan enggak ada, pembayaran gaji terus jalan," ujar dia.
Omzet Ritel Fashion Anjlok 98 Persen, Karyawan Matahari dan Ramayana Jadi Korban (319793)
Gelaran diskon di Matahari Department Store. Foto: Ela Nurlaela/kumparan
Disinggung soal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor ritel, Solihin enggan menanggapi. Menurutnya hingga kini, Aprindo masih meminta data lengkap dari pengusaha ritel yang menjadi anggota, termasuk penjelasan lengkap PHK 87 karyawan Ramayana yang viral di media sosial.
Menurut dia, PHK adalah opsi terakhir bagi pengusaha terhadap nasib pegawainya. Hingga kini, Aprindo mengimbau agar tak ada PHK, tapi setiap perusahaan ritel punya kondisi berbeda.
"Sampai kemarin kami sepakat ya bahwa PHK itu adalah satu jalan paling terakhir. Kami juga enggak bisa maksa anggota lain kalau ternyata dia ambil jalan itu ya walaupun kita minta ke pengusaha dalam kondisi seperti ini jangan ambil jalan itu (PHK). Tapi semua kembali ke kebijakan masing-masing perusahaan, apalagi kita tahu dalam kondisi ini penjualan enggak ada, tapi gaji jalan terus," ujar dia.
ADVERTISEMENT
Karyawan Matahari dan Ramayana Jadi Korban
Sejak corona merebak dan pusat perbelanjaan banyak yang tutup, setidaknya ada dua perusahaan ritel besar yang tercatat melakukan merumahkan sementara dan PHK kepada banyak pegawainya. PT Matahari Store Tbk (LPPF) dan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) adalah dua pemain besar ritel Indonesia yang mengambil langkah tersebut.
Pada 1 April lalu, manajemen Matahari memutuskan untuk menutup sementara seluruh gerai secara nasional selama 14 hari atau bahkan lebih. Keputusan manajemen ini bertujuan untuk mencegah meluasnya pandemi COVID-19 dan juga mendukung gerakan nasional #Dirumahaja. Karyawan di seluruh gerai pun dirumahkan. Karyawan yang dirumahkan tetap memperoleh gaji, namun tidak dibayar penuh. Makin tinggi jabatan, pemotongan gaji semakin besar.
Omzet Ritel Fashion Anjlok 98 Persen, Karyawan Matahari dan Ramayana Jadi Korban (319794)
Gelaran diskon di Ramayana Department Store. Foto: Ela Nurlaela/kumparan
Sementara Ramayana Depok melakukan PHK pada sebanyak 87 karyawan. Kasus PHK tepatnya terjadi di Ramayana City Depok, Jawa Barat. Video para pegawai yang kena PHK pun viral di media sosial.
ADVERTISEMENT
Store Manager Ramayana City Plaza Depok M Nukmal Amdar pun membenarkan kabar PHK yang terjadi tersebut. Ia mengungkap kejadian di video itu terjadi pada tanggal 4 April 2020 lalu.
"Kami hanya ingin memverifikasi bahwa video yang beredar merupakan kejadian pada hari Sabtu tanggal 4 April 2020, kondisi di mana para karyawan melakukan sesi perpisahan kepada rekan kerja masing-masing," ujar Nukmal ketika dihubungi kumparan, kemarin.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white