OPEC+ Beri Sinyal Naikkan Produksi Minyak Usai Uni Emirat Arab Hengkang
ยทwaktu baca 3 menit

Negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+) memberi sinyal untuk menaikkan produksi, meski menghadapi tekanan internal dan keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari keanggotaan. Keputusan tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga persepsi stabilitas sekaligus menunjukkan bahwa arah kebijakan kelompok tidak berubah di tengah dinamika geopolitik.
Dilansir Bloomberg, Minggu (3/5), dalam pembicaraan yang berlangsung akhir pekan, anggota OPEC+ yang dipimpin oleh Arab Saudi dilaporkan telah menyepakati kenaikan kuota produksi untuk Juni 2026. Volume yang dibahas berada di kisaran 188.000 barel per hari.
Meski demikian, gangguan pasokan yang terjadi akibat konflik di Iran membuat tambahan produksi dalam jangka pendek diproyeksi tidak bisa terealisasi sepenuhnya. Apalagi jalur distribusi utama minyak mengalami tekanan, sehingga membatasi arus fisik minyak ke pasar global.
Dengan kondisi tersebut, fokus utama pertemuan OPEC+ bukan semata pada kenaikan jumlah produksi, melainkan juga kemampuan untuk berbisnis. Para delegasi sebelumnya telah mengantisipasi kenaikan dalam jumlah yang moderat.
Keluarnya UEA menjadi salah satu guncangan terbesar dalam sejarah OPEC+. Setelah hampir enam dekade menjadi anggota, langkah Abu Dhabi mencerminkan akumulasi ketegangan dengan Arab Saudi terkait kebijakan produksi. UEA selama ini mendorong fleksibilitas yang lebih besar untuk memaksimalkan kapasitas produksi, sementara sistem kuota OPEC+ dinilai membatasi ambisi tersebut.
Perpecahan ini juga menambah tekanan terhadap pengaruh OPEC+ di pasar minyak global. Dalam beberapa tahun terakhir, kemampuan aliansi untuk mengendalikan harga telah tergerus oleh meningkatnya produksi dari negara non-anggota, termasuk produsen minyak di Amerika Serikat.
Namun, sejumlah anggota utama menegaskan komitmennya untuk tetap bertahan. Rusia dan Kazakhstan menyatakan tidak memiliki rencana untuk keluar dari aliansi. Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, menegaskan bahwa peluang terjadinya perang harga dalam waktu dekat relatif kecil, terutama karena keterbatasan produksi akibat konflik yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, negara seperti Irak juga masih memilih berada di bawah payung OPEC, meski selama ini dikenal kerap melampaui kuota produksi. Pelanggaran serupa juga terjadi di Kazakhstan, mencerminkan tantangan disiplin internal yang telah lama dihadapi aliansi. Sementara itu, Aljazair menegaskan komitmennya untuk tetap mendukung kebijakan kolektif OPEC+.
Harga minyak mentah Brent tercatat bertahan di kisaran USD 108 per barel pada akhir pekan lalu, turun dari level tertinggi lebih dari USD126 per barel yang sempat dicapai di awal pekan. Lonjakan tersebut dipicu oleh gangguan pasokan yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah, mendorong kenaikan harga berbagai produk energi seperti solar, bensin, hingga bahan bakar jet.
Kenaikan harga energi mulai berdampak pada sisi permintaan. Sejumlah pelaku pasar memperingatkan potensi kehancuran permintaan (demand destruction), seiring meningkatnya beban biaya bagi konsumen dan industri.
Para pelaku pasar saat ini masih melihat situasi, apakah keluarnya UEA dari OPEC akan menjadi kasus tunggal atau justru memicu langkah serupa dari negara lain.
