Kumparan Logo

Pabrik Hot Strip Mill 2 Krakatau Steel Mulai Beroperasi

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peresmian beroperasinya Pabrik Hot Strip Mill 2 milik Krakatau Steel di Cilegon, Banten, Selasa (18/5). Foto:  Krakatau Steel
zoom-in-whitePerbesar
Peresmian beroperasinya Pabrik Hot Strip Mill 2 milik Krakatau Steel di Cilegon, Banten, Selasa (18/5). Foto: Krakatau Steel

Pabrik baja lembaran panas atau Hot Strip Mill 2 milik PT Krakatau Steel resmi beroperasi pada Senin (17/5) malam. Hal ini ditandai dengan produksi perdana Hot Rolled Coil (HRC) dari pabrik tersebut,

Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim, mengatakan pabrik ini berkapasitas HRC 1,5 juta ton per tahun. Pabrik dengan investasi mencapai USD 521 juta atau setara Rp 7,5 triliun ini merupakan pabrik baja yang menggunakan teknologi terbaru dan tercanggih yang mulai dibangun pada 2016.

Pabrik ini menghasilkan produk baja HRC dengan spesifikasi tertentu untuk melengkapi produk yang dihasilkan oleh pabrik HSM 1 Krakatau Steel yang sudah beroperasi dari 1983.

Salah satu jenis produk yang menjadi keistimewaan pabrik baru ini adalah HRC untuk kebutuhan otomotif dan pabrik ini adalah pabrik pertama di Indonesia yang mampu menghasilkan ketebalan HRC dengan rentang 1,4 mm hingga 16 mm dengan lebar mulai dari 600 mm hingga 1.650 mm.

"Pabrik ini adalah pabrik dengan teknologi dan sistem terbaru yang memiliki tingkat efisiensi lebih tinggi. Total penghematan biaya operasional bisa mencapai 25 persen dari pabrik HSM pada umumnya karena penurunan konsumsi energi dan penggunaan tenaga kerja yang lebih optimal," kata Silmy dalam keterangannya, Selasa (18/5).

Peresmian beroperasinya Pabrik Hot Strip Mill 2 milik Krakatau Steel di Cilegon, Banten, Selasa (18/5). Foto: Krakatau Steel

Melalui pabrik HSM 2 ini, kapasitas produksi HRC Krakatau Steel bertambah menjadi 3,9 juta ton per tahun sehingga dapat menekan impor HRC yang mencapai 0,9-1,9 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan baja HRC/Plate nasional mencapai 4,8-5,3 juta ton per tahun.

Berdasarkan data itu, Silmy mengatakan kebutuhan HRC sudah dapat dipenuhi oleh pabrikan dalam negeri. Dia menjelaskan, pabrik baru ini sudah disiapkan untuk mengantisipasi peningkatan kapasitas produksi sampai dengan 4 juta ton per tahun.

"Sehinga dalam pengembangannya nanti investasi yang dibutuhkan lebih rendah dibandingkan dengan investasi pabrik kompetitor di dalam dan luar negeri," ujar dia.

Menteri BUMN Erick Thohir mengapresiasi keberhasilan beroperasinya pabrik HSM 2. Menurutnya, keberhasilan ini membuktikan transformasi yang dilakukan Krakatau Steel berjalan dengan baik. Pabrik ini akan turut memajukan perekonomian Indonesia.

“Dengan beroperasinya Pabrik HSM 2 Krakatau Steel mampu memenuhi kebutuhan baja dalam negeri sehingga akan mewujudkan kemandirian industri baja nasional. Hal ini akan berkontribusi terhadap penghematan cadangan devisa negara mencapai Rp 29 triliun,” ujar Erick.

Peresmian beroperasinya Pabrik Hot Strip Mill 2 milik Krakatau Steel di Cilegon, Banten, Selasa (18/5). Foto: Krakatau Steel

Penyelesaian pembangunan pabrik ini yang semula direncanakan beroperasi pada awal 2020 sempat tertunda karena adanya pandemi COVID-19. Kendala yang dihadapi saat itu adalah pada tahap commissioning dikarenakan kesulitan dalam mendatangkan teknisi dari luar negeri. Pabrik HSM 2 ini dibangun oleh konsorsium bersama SMS Group Jerman dan PT Krakatau Engineering.

Manajemen Krakatau Steel bersyukur proyek HSM 2 ini bisa selesai karena dengan dioperasikannya pabrik ini akan semakin memperbaiki kinerja Krakatau Steel, terlebih saat ini terjadi peningkatan harga baja dunia pada 6 bulan terakhir.