Kumparan Logo

Pakai Kereta Cepat, Jakarta-Bandung Hanya 46 Menit

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kereta yang akan dipakai sebagai Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Foto: Dok. PT KCIC
zoom-in-whitePerbesar
Kereta yang akan dipakai sebagai Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Foto: Dok. PT KCIC

Kereta Cepat Jakarta-Bandung ditargetkan dapat beroperasi di tahun 2021. Hingga akhir pekan lalu, progres pengerjaan proyek perkeretaapian itu telah mencapai 21 persen.

Rencananya saat beroperasi, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) akan menggunakan armada CR400AF, kereta cepat generasi terbaru hasil pengembangan perusahaan China, CRRC Qingdao Sifang.

Satu rangkaian kereta CR400AF terdiri dari 8 gerbong dengan kecepatan 350 km per jam, salah satu gerbong dikhususkan bagi penumpang berkebutuhan khusus. Nantinya jarak tempuh Jakarta-Bandung hanya 46 menit jika kereta berhenti di tiap stasiun.

Gerbong kereta yang akan dipakai sebagai Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Foto: Dok. PT KCIC

“Kecepatan maksimalnya 350 km per jam. Dengan kecepatan tersebut, jarak Jakarta-Bandung dapat ditempuh hanya dalam waktu 36 menit (jika tanpa berhenti di tiap stasiun) sampai dengan 46 menit (berhenti di tiap stasiun),” tulis KCIC sesuai keterangan tertulis yang diterima kumparan, Senin (17/6).

Berdasarkan rencana, frekuensi perjalanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung sebanyak 100 kereta per hari, rinciannya 92 kereta untuk rute Halim-Karawang-Walini-Tegalluar (pulang pergi), dan 8 kereta rute Halim-Karawang (pulang pergi).

Ruang kemudi kereta yang akan dipakai sebagai Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Foto: Dok. PT KCIC

Dengan headway antarkereta hanya 20 menit, Kereta Cepat Jakarta-Bandung dapat menampung 109 ribu penumpang per hari. Adapun 1 trainset CR400AF dapat mengangkut 556 penumpang, rinciannya sebanyak 518 penumpang kelas 2, 28 penumpang kelas 1, dan 10 penumpang kelas bisnis. Harga tiket dibanderol mulai USD 16 atau Rp 228.800 (kurs: Rp 14.300).

Total nilai investasi proyek ini mencapai USD 6,07 miliar, di mana 75 persen pendanaannya berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB), sedangkan 25 persen sisanya berasal dari ekuitas KCIC.