Kumparan Logo

Pandemi Juga 'Hantam' Bisnis Penyedia Jasa Anjing Pelacak K-9 di Bali

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pawang bersama anjing pelacak K9 Bali.  Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Pawang bersama anjing pelacak K9 Bali. Foto: Dok. Pribadi

Lucky Taihuttu mesti putar otak buat menghidupi 50 ekor anjingnya sejak pandemi COVID-19 merebak. Sudah sejak 2015 Lucky menekuni profesi sebagai penyedia jasa anjing pelacak K-9 untuk keamanan di Bali.

Usaha ini digeluti dengan nama badan usaha Pandawa Dewata Tigapuluh. Usaha jasa anjing pelacak ini mesti menghadapi goncangan seiring bisnis perhotelan terpuruk di tengah pandemi COVID-19.

Kepada kumparan, Lucky bercerita bahwa pendapatan bisnisnya langsung anjlok 50 persen sejak pandemi merebak pada Maret 2020. Selain itu, dari tadinya dia memiliki kerja sama dengan 3 hotel, hanya bersisa satu.

Pawang bersama anjing pelacak K9 Bali. Foto: Dok. Pribadi

Lucky pun tak bisa menghindari pilihan merumahkan para pawang. Dari yang tadinya 40 orang, hanya bersisa 7 orang yang masih dipekerjakan hingga sekarang.

Bahkan buat menghidupi anjing-anjingnya, dia pun harus rela menguras seluruh isi tabungan. Sebab pemasukan yang tersisa 50 persen di satu hotel, tak lagi cukup buat gaji pawang plus biaya perawatan anjing-anjingnya.

"Seluruh tabungan saya sudah hilang, seluruh simpanan dari mulai kecil-kecil, perhiasan habis sudah," cerita Lucky kepada kumparan, Selasa (10/8).

Buat menghidupi 50 ekor anjing ini, tiap bulannya Lucky mesti merogoh kocek Rp 9 juta buat membeli dogfood kering. Ditambah dengan asupan gizi lainnya berupa daging ayam. Itupun sudah terpaksa dikurangi dari yang biasanya 200 kilogram menjadi 150 kilogram sebulan.

Pawang bersama anjing pelacak K9 Bali. Foto: Dok. Pribadi

Dana yang dikeluarkan buat daging ayam ini berkisar antara Rp 5,5 juta. Sehingga buat makanan anjing, ia menghabiskan hampir Rp 15 juta sebulan.

Ini hampir menghabiskan total pendapatan sekarang. Satu hotel yang masih memakai jasanya di Uluwatu, Bali, memberikan imbal jasa hanya 50 persen dari sewa seharusnya, dari yang biasanya Rp 50 juta menjadi Rp 25 juta.

Dari dana tersebutlah ia mesti menyiasati gaji 7 pawang senior yang tersisa, plus memenuhi kebutuhan anjing-anjingnya.

Saat ini, sembari terus berusaha mencukupi kebutuhan satwa-satwa yang ia besarkan sendiri atau bukan dibeli tersebut, Lucky berharap bisnis perhotelan bisa segera bangkit.

"Harapannya enggak muluk-muluk, kita butuh kerjaan. Kita enggak butuh apa-apa lagi selain kerja, kalau enggak kerja kan enggak makan," pungkas Lucky.