Pandu Sjahrir Bakal Bicara dengan Moody's Terkait Arah Kerja Danantara
·waktu baca 3 menit

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, akan komunikasi dengan lembaga pemeringkat Moody’s Ratings untuk menjelaskan arah kerja dan kebijakan Danantara.
Pandu menyebut isu utama yang disoroti Moody’s bukan pada fundamental ekonomi, melainkan kejelasan komunikasi mengenai arah kebijakan.
"Pada dasarnya disampaikan Moody’s adalah soal komunikasi. Mereka ingin kejelasan sebenarnya apa yang ingin kita lakukan, sesederhana itu," ujar Pandu dalam China Conference Southeast Asia, di St Regis Jakarta, Selasa (10/2).
"Ya tentu harus di-follow up dengan baik, yang tadi saya bicarakan di dalam. Kita nih komunikasi sebagai satu, karena kita satu Indonesia. Bagus ada peringatan seperti itu, kan poin utama dari Moody’s itu adalah soal komunikasi dan arahan," tambahnya.
Pandu mengungkapkan sistem kebijakan yang dijalankan pemerintah dan institusi terkait pada dasarnya mampu mengevaluasi diri masing-masing, selama rencana kerja dijelaskan secara terbuka dan dijalankan secara terkoordinasi.
"Ini juga menjadi tugas kita, sistem ini pada dasarnya bisa mengoreksi dirinya sendiri. Kita hanya perlu menyampaikan dengan jelas apa yang ingin kita kerjakan, lalu menjalankannya dengan baik dan terkoordinasi," ujar Pandu.
Menurut Pandu, komunikasi jadi semakin penting karena lembaga pemeringkat lain juga dijadwalkan melakukan penilaian. Fitch diperkirakan berkunjung dalam waktu dekat, disusul S&P. Dia menilai RI memiliki banyak perkembangan positif yang dapat disampaikan kepada investor global.
Pandu juga mengakui komunikasi ke eksternal selama ini belum optimal. Sehingga perlu ditingkatkan agar capaian domestik dapat dipahami secara luas.
"Terus terang, ini juga menjadi salah satu kelemahan kita, termasuk saya mungkin. Kita jarang keluar untuk menceritakan kisah kita sendiri. Padahal kita harus mampu menyampaikan cerita itu dengan baik," ungkap Pandu.
Pandu menyoroti sejumlah faktor yang mencerminkan perkembangan positif Indonesia, antara lain upaya pemberantasan korupsi, penguatan supremasi hukum, serta stabilitas makroekonomi.
“Indonesia saat ini memiliki banyak perkembangan positif. Pertama, upaya pemberantasan korupsi yang nyata. Kedua, penguatan supremasi hukum. Tanpa kepastian hukum, orang tidak akan berani berinvestasi. Ketiga, yang harus terus kita lakukan adalah berkomunikasi, berkomunikasi, dan berkomunikasi," tutur Pandu.
Dalam konteks kebijakan pemerintah, Pandu menilai fokus pembangunan sumber daya manusia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo menjadi faktor strategis jangka panjang.
"Presiden saat ini fokus pada satu hal yang sangat penting. Jika presiden sebelumnya, Pak Jokowi, berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, maka Presiden Prabowo kini menitikberatkan pada pembangunan manusia. Dengan jumlah penduduk sekitar 300 juta orang, ia fokus pada program makan gratis dan pendidikan," jelas Pandu.
Sebelumnya, Moody’s Investors Service memangkas outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif setelah melakukan asesmen melalui kunjungan ke Indonesia pada 27-29 Januari 2026.
Dalam proses tersebut, Moody’s berdiskusi dengan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, serta Danantara.
Meski outlook berubah, peringkat kredit Indonesia tetap dipertahankan di level Baa2, atau satu tingkat di atas batas investment grade.
Di sisi lain, perubahan outlook menjadi negatif mencerminkan perhatian Moody’s terhadap dinamika kebijakan ke depan. Dalam asesmennya, Moody’s menyoroti pentingnya menjaga prediktabilitas pengambilan kebijakan, kualitas komunikasi publik, serta koordinasi antarkementerian dan lembaga baru termasuk Danantara.
