Kumparan Logo

Pandu soal IHSG Masih Merah: It's Time to Buy Saham yang Fundamentalnya Baik

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, di acara Forbes CEO 2025 di Hotel St. Regis Jakarta, Rabu (15/10/2025). Foto: Dok. Forbes
zoom-in-whitePerbesar
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, di acara Forbes CEO 2025 di Hotel St. Regis Jakarta, Rabu (15/10/2025). Foto: Dok. Forbes

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, merespons soal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih di zona merah pada hari ini, Senin (2/2). Pemerintah telah melakukan reformasi di pasar modal Indonesia, dengan rencana menaikkan jumlah saham yang dapat dimiliki masyarakat atau free float menjadi 15 persen hingga batas minimal penempatan dana pensiun dan asuransi di saham.

IHSG ditutup turun 406,875 poin (4,88 persen) ke posisi 7.922,731. Sedangkan indeks LQ45 juga ditutup turun 27,293 poin (3,27 persen) ke 806,242. Sebanyak 58 saham naik, 720 saham turun, dan 36 saham stagnan.

Pandu bilang, merahnya IHSG hari ini tidak perlu dikhawatirkan. Sebab menurutnya, investor harus benar-benar memperhatikan fundamental perseroan

"Jadi saya sih melihatnya sesuatu yang enggak perlu dikhawatirkan. Kita harus lihat balik ke fundamental, ke valuasi, kita harus membeli juga melihat saham-saham, dan ini bagus lah juga untuk pemikiran buat teman-teman, jangan hanya melihat short-term. Investasi itu harus memikir medium to long-term," jelas Pandu di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (2/2).

Dia melanjutkan, saat ini merupakan waktu yang tepat membeli saham-saham yang memiliki fundamental yang baik.

"Jangan karena sehari melihat, oh, hari ini mungkin merah, tapi untuk saham-saham yang punya valuasi yang baik, fundamental yang baik, likuiditas yang baik, maybe it’s a good time to buy," katanya.

video story embed

Pandu menuturkan, secara umum memang perdagangan saham hari ini mengalami penurunan. Namun, ia meminta masyarakat melihat dari sisi pembelian saham oleh investor asing yang mulai meningkat.

"Yang kedua, memang banyak retail melihat nih banyak saham-saham yang kemarin saya bilang uninvestability atau saham-saham yang memang dengan valuasi yang sangat tinggi mengalami koreksi. Tapi kalau dilihat saham-saham yang fundamental itu mengalami malah net buy dan positif," tuturnya.

Pasar Lakukan Detox

Praktisi pasar modal dan Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, menilai bahwa fundamental bursa saham Indonesia saat ini baik. Menurutnya, masih merahnya IHSG hari ini karena pasar mulai melakukan detoks, yakni hanya saham-saham yang fundamentalnya baik yang memang dibidik investor.

"IHSG pada Senin ini dibuka melemah, tetapi saham-saham dengan fundamental bagus malah menguat atau diakumulasi," jelas Hans.

Dia menjelaskan, pelemahan IHSG terkonsentrasi pada saham-saham yang terpengaruh kebijakan MSCI. Selain itu juga upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan percepatan reformasi integritas.

"Nampaknya pelaku pasar ritel sedang melakukan market detox dan melakukan penjualan mengantisipasi risiko pada saham-saham yang terimbas kebijakan MSCI dan perbaikan cepat yang akan OJK dan SRO lakukan," katanya.

Pengunjung memotret layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Hans meminta investor ritel tak perlu panik. Justru menurutnya, hal ini menjadi momentum agar investor jeli melihat saham yang memiliki fundamental baik.

"Sebaiknya pelaku pasar ritel jangan panik, dan melakukan akumulasi pada saham-saham yang berfundamental bagus," tambahnya.

8 Rencana Aksi OJK

Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan otoritas melakukan delapan rencana aksi untuk memperkuat likuiditas, meningkatkan transparansi, serta menjaga kepercayaan investor.

“OJK bersama dengan Self Regulatory Organization, bersama dengan Bursa Efek Indonesia, Kliring Penjaminan Efek Indonesia, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia, menyampaikan komitmen untuk melakukan bold and ambitious reforms di pasar modal Indonesia sesuai dengan best practices dan memenuhi ekspektasi Global Index Provider,” kata Friderica dalam Dialog Pasar Modal yang digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Minggu (1/2).

Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi (tengah) dalam Dialog Pasar Modal yang digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Minggu (1/2/2026). Foto: OJK

Dijelaskan Friderica, rencana aksi untuk percepatan reformasi integritas ini diharapkan bisa menjadikan pasar modal Indonesia semakin kredibel dan investable, sehingga dapat memberikan dukungan optimal bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Delapan rencana aksi ini dikelompokkan ke dalam empat klaster. 
Klaster pertama adalah kebijakan baru free float, klaster kedua adalah transparansi. Sementara klaster ketiga adalah tata kelola dan enforcement, serta klaster keempat adalah sinergitas.

Rencana aksi pertama, adalah menaikkan batas minimum free float emiten menjadi 15 persen, meningkat dari ketentuan saat ini sebesar 7,5 persen yang dilakukan secara bertahap (stages). Untuk perusahaan yang melakukan IPO baru, dapat langsung ditetapkan 15 persen. Sedangkan untuk emiten yang sudah lama, akan diberikan waktu transisi.

Kategori kedua adalah transparansi, khususnya transparansi atas ultimate beneficial owner atau UBO. OJK akan terus mendorong penguatan transparansi UBO dan keterbukaan afiliasi pemegang saham, guna meningkatkan kredibilitas dan daya tarik investasi melalui pengaturan yang tegas berdasarkan best practices internasional.

Kategori ketiga adalah penguatan data kepemilikan saham. OJK akan memerintahkan SRO untuk melakukan penguatan data kepemilikan saham agar lebih granular dan reliable, dengan klasifikasi sub-tipe investor mengacu pada praktik global.

Rencana aksi keempat adalah demutualisasi Bursa Efek Indonesia, sesuai amanat undang-undang, untuk meningkatkan tata kelola dan mengurangi konflik kepentingan. OJK akan terus membahas hal ini bersama pemerintah dan BEI dalam rangka persiapan implementasi.

Rencana aksi kelima adalah penegakan peraturan dan sanksi. OJK akan memperkuat enforcement terhadap berbagai pelanggaran hukum di pasar modal, termasuk manipulasi transaksi saham dan penyebaran informasi menyesatkan yang merugikan investor ritel.

Rencana aksi keenam adalah penguatan tata kelola emiten, antara lain melalui kewajiban pendidikan berkelanjutan bagi direksi, komisaris, dan komite audit, serta kewajiban sertifikasi bagi penyusun laporan keuangan emiten.

Untuk sinergitas, rencana aksi ketujuh adalah pendalaman pasar secara terintegrasi melalui sinergi OJK dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan stakeholder lainnya, guna memperkuat peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.

Rencana aksi kedelapan adalah penguatan kolaborasi dan sinergi dengan seluruh stakeholder, termasuk pemerintah, SRO, pelaku industri, untuk melanjutkan reformasi pasar modal secara berkesinambungan.