Pasar Fashion dan Kosmetik Halal Indonesia Tumbuh dan Menjanjikan
·waktu baca 3 menit

Industri halal di Indonesia memiliki potensi yang cukup menjanjikan. Salah satunya pada produk fashion dan kosmetik. Berdasarkan data Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah atau KNKS, pasar fashion halal Indonesia merupakan yang terbesar ketiga di dunia.
"Selama tahun 2019, konsumen Indonesia menghabiskan USD 20 miliar atau sekitar Rp 300 triliun untuk keperluan produk fashion muslim," dikutip laporan KNKS, Jumat (1/10).
Dalam laporannya, KNKS mencatat dari hasil survei menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat pada fashion halal mencapai 89,2 persen. Yang menjadi faktor utama dalam memilih produk fesyen adalah kenyamanan, produk bermutu, dan harga.
"Hasil analisa ekspor–impor berdasarkan Data Kementerian Perdagangan tahun 2014-2019 memperlihatkan potensi kebutuhan sektor fesyen selalu dalam posisi net ekspor (nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan impor). Potensi ini mestinya menjadi menjadi kekuatan bagi Indonesia dalam pengembangan industri halal di sektor fesyen," tertulis dalam laporan.
Selain fashion, pasar untuk kosmetik halal juga menjanjikan. Wardah misalnya menuai sukses besar dengan mengidentifikasi diri mereka dengan halal. Pada tahun 2014, Wardah menguasai pangsa pasar kosmetik dari 5 persen menjadi 16 persen di wilayah perkotaan.
"Dalam ruang lingkup kosmetik halal, aspek-aspek penting dari produksi seperti bahan baku halal dan penggunaan zat-zat yang diizinkan harus dibuat, disimpan, dikemas, dan dikirim sesuai dengan persyaratan syariah. Produsen halal semakin peduli pada kehalalan bahan yang digunakan untuk menghasilkan produknya," seperti dikutip dalam laporan.
Proyeksi Fashion dan Kosmetik Halal di Indonesia
Pengamat Ekonomi Syariah, Yusuf Wibisono, menilai industri fashion dan kosmetik halal di Indonesia juga sangat menjanjikan. Hal ini didukung dengan mayoritas penduduk muslim di Indonesia.
Menurutnya, kelas penduduk muslim di kelas menengah juga terus tumbuh. Ini juga menjadi pendorong potensi pasar fashion dan kosmetik halal di Indonesia.
"Kelas menengah muslim, produk fashion dan kosmetik telah menjadi produk primer dalam 'keranjang belanja' mereka. Dengan jumlah populasi muslim yang besar dan terus bertumbuh, baik karena pertambahan penduduk alamiah maupun karena penduduk muslim yang naik kelas ke kelas pendapatan lebih tinggi, produk fashion dan kosmetik halal diproyeksikan akan terus tumbuh ke depan," kata dia.
Namun, menurutnya produksi lokal masih belum cukup untuk memanfaatkan potensi ini. Malahan pemain asing bisa menjadi penguasa untuk industri fashion dan kosmetik halal di Indonesia.
"Potensi pasar halal domestik yang besar ini masih lebih banyak di garap pemain luar. Jika Indonesia bisa meningkatkan jumlah pemain halal lokal ini semakin banyak dan semakin kuat, tidak hanya pasar domestik, Indonesia juga berpeluang menggarap pasar halal global dari 1,8 miliar muslim dunia," tuturnya.
Maka itu perlu ada ekosistem industri halal yang komprehensif. Dengan adanya ekosistem ini, menurutnya membuka kesempatan produksi lokal berbasis UMKM dan ekonomi rakyat. Jangan sampai, kata dia, besarnya potensi pasar ini akhirnya hanya dinikmati pemain besar dan bahkan pemain asing.
"Dalam meningkatkan pemain lokal ini, menurut saya lebih efektif menciptakan ekosistem industri halal yang komprehensif, mulai dari sertifikasi halal, pasokan SDM industri halal, dukungan pembiayaan syariah untuk industri halal, kawasan industri halal, termasuk pusat riset halal, hingga dukungan edukasi dan promosi halal ke publik yang masif," tutupnya.
