Pasar Minyak Tertekan Perang di Iran, Defisit Diprediksi Tembus 9,6 Juta Barel
·waktu baca 2 menit

Blokade ganda di Selat Hormuz akibat eskalasi perang AS-Israel dengan Iran telah melumpuhkan lalu lintas minyak global hingga ke titik nol, memicu guncangan hebat pada rantai pasok energi dunia. Terhentinya jutaan barel pasokan minyak mentah per hari menyebabkan harga minyak jenis Brent melonjak hampir 50 persen sejak akhir Februari. Kondisi ini disebut mengancam stabilitas inflasi dan pertumbuhan ekonomi global. “Kami kini memperkirakan normalisasi ekspor dari kawasan Teluk terjadi pada akhir Juni, dibandingkan sebelumnya pertengahan Mei, serta pemulihan produksi yang lebih lambat,” ujar para analis, seperti dikutip dari Bloomberg pada Senin (27/4). “Risiko ekonomi lebih besar daripada sekadar proyeksi dasar harga minyak kami, karena adanya potensi kenaikan harga minyak, harga produk olahan yang sangat tinggi, risiko kelangkaan produk, serta skala guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” lanjut para analis. Imbas gangguan tersebut, Goldman Sachs memperkirakan akan terjadi defisit sebesar 9,6 juta barel per hari pada kuartal pertama 2026, dibandingkan dengan surplus pada tahun lalu. Sementara itu, Morgan Stanley menyebut ekspor minyak dari Teluk Persia telah turun sebesar 14,2 juta barel per hari akibat penutupan Selat Hormuz, berdasarkan catatan analis termasuk Martijn Rats. Bank tersebut memprediksikan stok global diperkirakan menyusut sebesar 4,8 juta barel per hari, dengan melemahnya permintaan yang menutup sebagian selisih tersebut. “Sejak penutupan Selat Hormuz, pasar minyak pada dasarnya berada dalam dua kondisi sekaligus: tertutup bagi sebagian besar lalu lintas, tetapi tidak sepenuhnya, diperkirakan akan dibuka kembali kapan saja, tetapi sejauh ini belum ada perubahan berarti. Guncangannya besar, datanya belum lengkap, dan pemulihannya bersifat kondisional,” kata para analis. Morgan Stanley mempertahankan proyeksi harga Brent, dengan perkiraan rata-rata USD 110 per barel pada kuartal ini, USD 100 pada kuartal ketiga, dan USD 90 pada kuartal keempat. Sementara Goldman memperkirakan Brent berada di USD 100 per barel pada kuartal ini dan USD 93 pada kuartal ketiga dalam proyeksi terbarunya. Harga kontrak berjangka terakhir berada di kisaran USD 108 per barel, menuju kenaikan harian keenam berturut-turut yang berpotensi menjadi tren kenaikan terpanjang dalam lebih dari satu tahun.
