‘Pasar Semen Nasional Masih Suram hingga 10 Tahun ke Depan’

Industri semen tertua di Indonesia, PT Semen Padang, memperingati 60 tahun pengambilalihan perusahaan dari Pemerintah Belanda. Dalam kesempatan itu, Direktur Utama PT Semen Padang, Yosviandry, menyampaikan proyeksi industri semen nasional yang masih menghadapi tantangan berat.
Dia mengatakan, pasar semen nasional saat ini kelebihan pasokan. Akibatnya, dari rata-rata produksi semen, hanya sekitar 66% yang bisa terserap pasar. "Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung sampai dengan 10 tahun ke depan," kata dia di Padang, Kamis (5/7).
Dia mengungkapkan, salah satu pemicu kelebihan pasokan semen nasional, adalah gencarnya produsen semen China masuk ke pasar Indonesia. Kondisi ini, lanjut dia, diperparah dengan terbitnya Permendag Nomor 07 tahun 2018, yang membolehkan impor klinker dan semen ke Indonesia.
“Padahal dari sisi biaya produksi, semakin meningkat akibat kenaikan harga BBM dan batu bara dunia, hingga melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar,” ujar Yosviandry seperti dikutip dari Antara. Dia menjelaskan, pelemahan rupiah menyebabkan kenaikan harga suku cadang, serta komponen impor lainnya.
Akibat dari kondisi ini, laba perusahaan menunjukkan tren penurunan dalam 4 tahun terakhir.
Pada 2012, perusahaan mencatatkan laba bersih Rp 927,7 miliar; Lalu pada 2013 meningkat menjadi Rp 1,04 triliun. Namun setelah itu terus turun, hingga pada 2017 menjadi Rp 498,8 miliar.
Menurut dia, 2013 merupakan masa keemasan industri semen nasional, karena hanya diisi oleh 7 pemain. "Kini menjadi 15 pemain, tak hanya dari pemodal dalam negeri, namun juga perusahaan semen top dunia," ujarnya.
Ia melihat para pemain baru itu juga meningkatkan kapasitas produksi, padahal permintaan nasional tidak tumbuh positif seperti yang diharapkan.

"Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga pokok produksi, yang memicu perang harga di pasaran. Akibatnya sejumlah pemain ada yang memilih menurunkan harga, dan bahkan ada pula yang memberhentikan sementara karyawan," katanya.
Akan tetapi ia berharap di 2018 pencapaian laba bersih bisa meningkat di atas tahun 2017 dengan melakukan upaya-upaya efisiensi untuk mendongkrak kinerja keuangan.
