Pasar Tanah Abang Meredup, Harga Sewa Kios Diobral Murah
·waktu baca 3 menit

Ramainya Pasar Tanah Abang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Pedagang melayani banyak pembeli sudah menjadi pemandangan lumrah di pasar yang merupakan pusat tekstil terbesar Asia Tenggara ini.
Namun, itu sebelum pandemi COVID-19 melanda. Kini, para pedagang Pasar Tanah Abang mengalami kesulitan di tengah pandemi yang belum teratasi.
Pasar yang ditutup, diikuti sepinya pembeli saat boleh beroperasi membuat mereka saat ini tidak bisa berbuat banyak untuk bertahan. Tak heran, ada informasi pedagang yang sampai menyewakan kembali kiosnya dengan harga Rp 15 juta. Padahal semula bisa mencapai Rp 250 juta.
Kondisi tersebut dibenarkan oleh salah seorang pedagang di Pasar Tanah Abang, Surya. Surya merasa kondisi semakin berat karena pembeli yang masuk dibatasi dan ada syarat vaksinasi.
“Begitulah keadaannya sekarang. Percuma buka toko kalau pembeli susah masuk,” kata Surya saat dihubungi kumparan, Senin (2/8).
Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri, menyayangkan sampai ada pedagang menyewakan kiosnya. Namun, ia mengakui kondisi saat ini sedang sulit apalagi saat adanya pembatasan.
“Terkait dengan sewa ruko, kios yang cukup banyak info diobral murah dan seterusnya ini memang cobaan. Kami dorong agar pemerintah peduli terhadap pedagang. Kami berharap sekali lagi pedagang tak menjual murah kiosnya karena itu investasi panjang untuk keluarga mereka,” ujar Mansuri.
Mansuri merasa disewakannya kembali kios dari pedagang tersebut tentu bukan tanpa alasan. Ia mengatakan dengan pasar sempat ditutup membuat keuangan pedagang menipis. Saat boleh beroperasi, ada pembatasan yang harus dijalankan para pedagang.
“Persoalannya adalah memang investasi, tabungan, itu terkuras habis untuk kebutuhan sehari-hari. Kedua, memang enggak ada subsidi yang nyampai ke mereka sehinga mereka juga hampir putus asa,” ungkap Mansuri.
Mansuri menegaskan pihaknya terus mendorong agar pedagang terus bisa bertahan dengan solusi yang dipikirkan bersama. Selain mengharapkan bantuan pemerintah, pedagang disarankan bisa memanfaatkan pasar online.
Mansuri percaya keadaan sulit ini segera bisa diselesaikan. Sehingga para pedagang bisa bangkit kembali dari kesulitan.
“Kami punya keyakinan bahwa pandemi ini segera bisa kita lawan dengan kemenangan kita. Kami berharap agar COVID pergi dari negeri kita dan semua segera pulih kembali, segera menjalani aktivitas sebagaimana mestinya,” jelas Mansuri.
Sementara itu, Manager Umum dan Humas Perumda Pasar Jaya, Gatra Vaganza, mengungkapkan pihaknya sebenarnya sudah memberikan keringanan bagi para pedagang. Salah satunya adalah relaksasi keringanan Biaya Pengelolaan Pasar (BPP) ke para pedagang yang berada di bawah pengelolaan Perumda Pasar Jaya.
Gatra Vaganza mengatakan pemberian relaksasi keringanan pembayaran ini diberikan untuk bulan Juli 2021. Aturan ini berlaku bagi kios pedagang yang tetap buka dan juga ditutup selama pemberlakukan PPKM di seluruh pasar.
“Untuk jenis TU yang menjual kebutuhan sehari-hari, warung mamin dan lain sebagainya maka untuk pasar potensi A dan B diberikan relaksasi keringanan pembayaran BPP sebesar 25 persen dan untuk pasar potensi C diberikan keringanan sebesar 15 persen,” terang Gatra.
Selanjutnya ada bantuan usaha non pangan di luar tempat usaha yang menjual kebutuhan sehari-hari, Warung Mamin, dan tempat usaha yang menjual obat-obatan serta alat kesehatan yang tutup akan diberikan pembebasan BPP 100 persen.
Bantuan tersebut belum bisa dipastikan apakah berlaku kembali di bulan berikutnya. Mengenai pedagang yang menyewakan kiosnya, Gatra menuturkan kewenangan tersebut tidak di Pasar Jaya.
“Adapun terkait pedagang yang menyewakan kembali kiosnya itu tidak berada dalam pengawasan Pasar Jaya,” tutur Gatra.
