Kumparan Logo

Pasar Web3 Kripto Asia Tenggara Capai Rp 98,7 T, RI Diminta Ambil Peluang

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi aset kripto.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi aset kripto. Foto: Shutterstock

Pasar Web3 aset kripto di Asia Tenggara diproyeksi mencapai USD 6,4 miliar atau sekitar Rp 98,7 triliun (kurs Rp 15.442 per dolar AS) pada 2030. Potensi ini dinilai jadi peluang bagi perkembangan aset kripto dan blockchain di Indonesia.

Web3 merupakan layanan internet seperti blockchain, yang mendesentralisasi kepemilikan dan kontrol data di internet. Transaksi di Web3 kebanyakan menggunakan mata uang kripto.

Mengutip laporan Emergen Research, Rabu (28/8), tingkat pertumbuhan Web3 Asia Tenggara mencapai 50,2 persen. Berdasarkan data dari Chainalysis, dari segi adopsi kripto Indonesia menempati posisi ke-7 di indeks dunia.

Partner dari Saison Capital, Qin En Looi, mengungkapkan, industri Web3 di Asia punya potensi yang lebih besar, khususnya yang bergerak di institusi finansial karena didukung lingkungan yang lebih baik. Selain itu, banyak lembaga hingga pemerintahan di Asia sudah bereksperimen dengan teknologi blockchain untuk menghadirkan berbagai solusi.

"Saya sudah berbicara dengan banyak sekali developer Web3 dan saya menilai bagaimana developer Web3 ini dapat menjangkau masyarakat luas. Saya pikir caranya sangat sederhana seperti mendorong interaksi pengguna untuk bisa memiliki dompet kripto dengan banyak opsi seperti login melalui sosial media atau email," jelasnya.

instagram embed

Selain itu, pemanfaatan User Interface (UI) dan User Experience (UX) yang membuatnya lebih mudah diakses. Menurutnya, developer Web3 harus terus berinovasi.

Co-founder & CEO Copra Labs, Brian Limiardi, mengungkapkan Thailand atau Vietnam jadi pasar yang menarik bagi perkembangan Web3.

Meski kedua negara punya komunitas developer dan ukuran pasar yang lebih kecil, para founders mampu mengatasi tantangan dengan lebih baik dan terus berkembang.

Adapun, pasar Web3 di Indonesia dinilai memiliki persaingan yang lebih ketat karena Indonesia punya ruang Web2 yang sangat besar dan lebih dinamis.

"Untuk mendorong pasar Web3 tumbuh, bagi saya katalis utamanya adalah kembalinya sektor Decentralized Finance (DeFi). Mungkin dalam siklus ini banyak narasi baru yang muncul, tetapi tetap banyak orang menyadari bahwa DeFi ada di lapisan aplikasi dari infrastruktur yang benar-benar jelas,” jelasnya.

Tytan.eth (Ty Blackcard), Co-Founder Magnify Cash menilai pasar Web3 di Asia punya daya tarik tersendiri, jika melihat pasar seperti Amerika Serikat dan Kanada, orang-orang di sana sudah sangat tahu tentang kripto. Tantangannya bukan lagi soal kesadaran, tetapi lebih kepada hambatan edukasi yang membutuhkan waktu.

Sementara itu, di Asia, khususnya di Indonesia, berada di tahap paparan pertama kali terhadap kripto. Meskipun secara volume transaksi belum besar, volumenya sendiri sangat menarik untuk diperhatikan.

"Selain itu, kolaborasi juga terasa lebih mudah diakses dan energinya lebih bebas mengalir dibandingkan dengan pasar Barat. Jadi, banyak energi, uang, dan perhatian yang bergerak ke arah ini,” terangnya.

Head of Community Pintu, Jonathan Hartono, mengaku optimistis, pasar Web3 semakin tumbuh pesat di Indonesia dengan tersedianya infrastruktur yang dapat menjembatani investor kripto dalam negeri untuk berinvestasi, trading, dan juga berselancar ke dunia Web3 yang semuanya dapat dilakukan melalui satu aplikasi Pintu.

"Kami juga yakin developer di Indonesia tidak hanya bertumbuh dari segi jumlah, namun mampu menghadirkan inovasi berskala global,” tambahnya.