Pasokan Batu Bara Buat Dalam Negeri Terganggu Banjir, Kok Ekspor Tetap Lancar?

Pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT PLN (Persero) kian tergerus akibat pengirimannya terhambat banjir di Kalimantan Selatan.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan banjir menyebabkan pengerukan di sejumlah tambang di Kalsel terganggu. Begitu pun saat barang akan dikirim ke PLTU di sejumlah daerah seperti di Jawa mengalami kesulitan.
Misalnya, saat stok baru bara dikirim menuju dermaga, jalannya tertutup banjir. Saat sampai di dermaga dan batu bara dimasukkan ke tongkang, izin berlayar pun tidak mudah dikeluarkan Kantor Kesyahbandaran karena cuaca di laut ekstrem.
"Nah ini semua secara keseluruhan akan memperlambat waktu kedatangan yang biasanya 4 hari bisa lebih dari seminggu. Inilah yang membuat stok batu bara di PLTU tiap hari tergerus. Ada beberapa PLTU yang darurat bahkan kritis (pasokannya)," kata Rida dalam konferensi pers Rantai Pasok Batu Bara untuk Pembangkit, Rabu (27/1).
Berdasarkan aturan, 25 persen produksi batu bara wajib menjual 25 persen produksi ke dalam negeri dengan harga murah melalui mekanisme Domestic Market Obligation (DMO). Sedangkan sisanya, 75 persen diekspor.
Tahun ini, total target produksi batu bara nasional 550 juta ton. Sebanyak 137,5 juta ton untuk dalam negeri dan sisanya 412,5 juta ton diekspor. Pasokan dalam negeri dipenuhi oleh 54 perusahaan batu bara.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan, meski pasokan dalam negeri terganggu karena ada banjir di Kalsel, jatah ekspor tetap lancar. Apalagi, saat ini harga jual di pasar global mulai naik.
"Ekspor tidak terganggu selama perencanaan bagus. Ekspor kan juga lagi nikmat-nikmatnya (karena harga bagus). Sekarang kita di satu sisi ekspor bagus, dalam negeri ada penyesuaian pasokan," kata Ridwan dalam kesempatan yang sama.
Sebelumnya, Ridwan juga pernah mengatakan ada peluang jatah ekspor ditambah karena harganya meroket. Itu artinya, produksi dalam negeri bakal digenjot lebih dari target yang ditetapkan.
Berdasarkan catatan kumparan, Harga Batu Bara Acuan (HBA) yang dikeluarkan Kementerian ESDM per Januari 2021 mencapai USD 75,84 per ton atau naik 27,14 persen dibandingkan HBA Desember 2020. Sedangkan rata-rata HBA tahun lalu hanya sebesar USD 58,17 per ton yang merupakan HBA terendah sejak 2015.
"Pemerintah sudah tetapkan rencana produksi, namun jika terjadi dinamika dalam perjalannya yang menguntungkan negara, kita terbuka. Itu pun dilakukan hati-hati yang secara regulasi memungkinkan," kata Ridwan Djamaluddin dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (15/1).
