Kumparan Logo

Pedagang Elektronik Glodok: Pembeli Sepi karena Beralih ke Online

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kulkas bekas di Glodok. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kulkas bekas di Glodok. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)

Masuknya rupiah sebagai mata uang yang mencatatkan penguatan tertinggi di ASEAN selama sepekan ini, belum jadi angin segar bagi para pedagang elektronik impor di kawasan Glodok. Salah seorang pedagang Acun mengatakan barang-barang elektronik yang ia jual tak banyak mengalami perubahan.

“Enggak pengaruh, kalau rupiah Rp 13 ribu paling baru ngaruh,” ujarnya ketika ditemui kumparan, Senin (26/11).

Bahkan, Acun mengaku, penjualan barang elektronik di tokonya juga kian sepi dari waktu ke waktu. Entah itu ketika dolar AS naik atau turun.

“Udah dua tahun ke belakang sih, sepi gini, lihat tuh gak banyak pembeli kan, sepi,” katanya.

Beberapa jenis barang yang dijual Acun mulai dari mesin cuci, kulkas, AC, speaker, hingga magicom dan setrika itu, ia akui hanya mampu terjual sekitar 10-30 item.

“Itu pun banyak yang kecil-kecil kayak magicom gitu yang Rp 250 ribuan. Paling kalau impor yang kulkas dari Korea LG itu yang laku Rp 1,6 juta satu pintu dan 2 pintu Rp 2,6 juta,” terangnya.

Toko penjual barang elektronik bekas di Glodok. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Toko penjual barang elektronik bekas di Glodok. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)

Ia melanjutkan, sepinya penjualan tak dipungkirinya sebagai dampak dari tren belanja yang kini merambah ke cara online.

“Ya kan sekarang banyak online juga, ini omzetnya bisa turun sampai 50 persen ada kali sebelum online ramai,” imbuhnya.

Belum lagi, kata Acun, masalah sewa dan operasional toko juga bukan hal yang murah.

“Ya cukup beban juga ya, kita mesti bayar pajak, sewa ruko, bayar listrik, karyawan, ongkos kirim, kalau dulu bisa omzet miliaran rupiah sekarang Rp 100 juta aja ngoyo,” tambahnya.

Senada, pedagang lainnya Julian juga mengaku penurunan dolar AS tidak banyak memberikan dampak.

“Kalau sudah naik, bakal susah turun, ya enggak jadi angin segarlah,” ucapnya.

Soal penjualan, Julian juga mengaku tak banyak berharap adanya banjir pembelian. Pasalnya, mayoritas pembeli yang mendatanginya adalah langganan.

“Biasanya beli speaker 20-30 biji gitu, ya selain itu tak banyak. Ya pintar-pintar menjaga pelanggan,” pungkasnya.