Pekerja Rumah Tangga Kala Pandemi: Gaji Cuma Rp 20 Ribu Sehari, Tak Dapat Bansos
ยทwaktu baca 3 menit

Sudah sebulan Muliawati terpaksa hidup berdampingan dengan sang ibu yang terpapar COVID-19. Bekerja sebagai pekerja rumah tangga sambil berjualan nasi bakar, membuatnya cuma mampu mengontrak sepetak rumah di bilangan Jakarta.
Kini, dengan adanya anggota keluarga yang positif COVID-19, Mulia mesti lebih ekstra hati-hati dalam memastikan kesehatan keluarganya. Sang ibu yang bernama Sumi menjalani isolasi di kamar belakang, sedangkan Mulia bersama suami dan 2 anaknya tinggal di kamar depan.
"Kami tinggal berlima dengan suami dan dua anak saya, yang paling terasa ketika ada yang terkena COVID-19. Ketika menggunakan kamar mandi, kalau ada anjuran harus pisah kamar dan kamar mandi, ini agak susah dilakukan PRT yang tinggal di rumah petak hanya satu kamar mandi," cerita Mulia dalam konferensi pers Suara Kelompok Marjinal Terhimpit Pandemi, dikutip dari siaran virtual Facebook Perempuan Mahardika, Senin (19/7).
Mulia dan sang ibu sama-sama berprofesi sebagai pekerja rumah tangga. Sejak ibunya terkena virus corona ini, Mulia harus berhenti berjualan nasi bakar lantaran takut menularkan kepada tetangga.
Alhasil, mereka kini harus merogoh tabungan buat menutupi pengeluaran yang kian besar untuk penanganan pasien COVID-19. Mulai dari membeli vitamin dan buah-buahan, sabun dan cairan disinfektan, hingga membeli hand sanitizer.
"Selama ibu terkena COVID-19, saya juga berjualan nasi harus berhenti karena takut menularkan tetangga, pengeluaran juga 4 kali lipat dari pengeluaran harian, harus menggunakan tabungan kami yang biasanya tidak membeli buah," tuturnya.
Mulia tidak sendiri, perempuan yang tergabung dalam komunitas Jala PRT itu mengungkapkan setidaknya 97 persen PRT di Jakarta tinggal mengontrak di rumah petak berhimpitan. Sebagian besar di antaranya mengalami persoalan serupa hingga sulit mengakses obat dan vitamin.
Kondisi senada diamini Trade Union Rights Centre (TURC). Peneliti TURC Indri Mahadiraka mengungkapkan bahwa sebanyak 96 persen pekerja rumahan mengalami penurunan penghasilan hingga pemutusan hubungan kerja sepanjang merebaknya pandemi COVID-19.
Data mengenai pekerja rumahan ini dikumpulkan TURC sejak pertengahan 2020 lewat kerja sama dengan berbagai jaringan pekerja rumahan. Penurunan penghasilan tersebut rata-rata bahkan mencapai hingga 50 persen saja dari penghasilan di waktu normal.
Mereka yang biasanya bergaji di kisaran Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta menjadi hanya Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Artinya, bahkan ada yang hanya mendapatkan penghasilan kurang dari Rp 20 ribu per hari.
"96 persen mengalami penurunan pendapatan di mana bisa Rp 1-1,5 juta per bulan, kini jadi kurang dari Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Ini cukup menyedihkan karena mereka menjadi pendapatan utama, kebanyakan karena order berkurang, tidak ada order, bahkan banyak yang mengalami PHK," tuturnya.
Pekerja Rumah Tangga Tak tersentuh Bansos
Dalam rangka sebagai jaring pengaman sosial di tengah pemberlakuan PPKM Darurat, pemerintah menyalurkan berbagai bantuan sosial. Sayangnya, kata Indri, sebagian besar pekerja rumah tangga ini tak mendapat bantuan tersebut hingga saat ini.
Dari data yang TURC kumpulkan, sebanyak 40 persen responden mereka mengaku belum mendapatkan berbagai jenis bantuan sosial (bansos) yang dikucurkan pemerintah.
"Ada berbagai alasan, tidak tahu informasi bagaimana mendapatkannya, tidak terdata. Ada juga yang sudah mengajukan tapi tidak mendapatkan akses, ada juga yang dianggap tidak memenuhi kriteria sampai tidak masuk daftar prioritas," tutur Indri.
