Pelaku UMKM Fesyen Dinilai Perlu Diberdayakan buat Bantu Kurangi Limbah Tekstil
·waktu baca 4 menit

Limbah tekstil dianggap bisa berdampak ke pencemaran lingkungan. Untuk itu, para pelaku UMKM yang bergerak di bidang fesyen dinilai harus dilibatkan dalam mengatasi persoalan tersebut.
Co-founder Our Reworked World, Annika Rachmat, mengatakan salah satu yang bisa dilakukan adalah kampanye gerakan slow fashion dengan memberdayakan pelaku UMKM.
Slow fashion lebih mengutamakan kualitas produk dan usia pemakaian yang lebih lama. Meski relatif lebih mahal, tetapi slow fashion dinilai jauh lebih unggul dan ramah lingkungan ketimbang fast fashion.
"Limbah tekstil adalah pencemar air kedua terburuk di dunia setelah limbah industri. Menurut data kami, dari total 200 miliar potong pakaian yang diproduksi setiap tahun, 85 persen di antaranya berakhir di tempat sampah," kata Annika melalui keterangan tertulis dari Antara, Rabu (19/10).
"Tak terkecuali, Indonesia, yang juga membutuhkan perhatian lebih pada isu ini. Kami mencatat, dari sekitar 33 juta ton pakaian yang diproduksi, hampir satu juta di antaranya menjadi limbah tekstil tiap tahun," tambahnya.
Annika mengungkapkan dalam beberapa laporan akhir-akhir ini, sejumlah isu sosial dan lingkungan akibat tren fast fashion mencuat di tingkat global dan kian mengkhawatirkan, termasuk masalah limbah tekstil, polusi udara karena pembakaran pakaian bekas, dan yang terburuk adalah eksploitasi anak-anak menjadi pekerja berupah rendah.
Hal itulah yang mendorong Annika bersama rekan lainnya yaitu Nicole Chu dan Britney Halim di awal pandemi tahun 2020 mulai mengumpulkan dan mengurasi pakaian-pakaian bekas atau sudah tak terpakai dari berbagai sumber dan donatur. Lalu, mereka menentukan ide dan pola yang cocok untuk tiap potong pakaian.
Setelah dinilai sangat layak pakai, pihak Annika memasarkan pakaian-pakaian tersebut via Instagram @4urclosetID dan website OurReworkedWorld.com/shop. Ia memastikan apabila ada baju yang terjual akan diserahkan 100 persen keuntungannya untuk UMKM.
"Kami memberdayakan para penjahit lokal untuk mengerjakan ulang pakaian-pakaian yang tidak terpakai. Setelah ditentukan, para penjahit akan mengerjakannya," kata Annika.
Sejak 2021, Our Reworked World menggandeng UKM dari Bali dan Klaten untuk pengerjaan ke sejumlah produk lain, seperti tas jinjing dua sisi (reversible tote bag), tas (bag), tas ransel (backpack), kantong (pouch), hingga Travel Cube yang kesemuanya diproduksi melalui proses alami tanpa kimia dan energi fosil.
Our Reworked World mengeklaim, setidaknya 95 persen dari 277 produk thrift yang dipajang telah laku terjual, di mana seluruh hasilnya telah diteruskan pada mitra penjahit dan beberapa mitra nirlaba di Indonesia.
"Ini bukan hanya tentang kemanusiaan, tetapi apresiasi atas kontribusi mereka yang sangat signifikan untuk masa depan yang berkelanjutan. Karena, dengan cara ini, mereka juga telah mengurangi limbah tekstil berkat slow fashion," ujar Annika.
Ke depan, Annika akan meningkatkan kerja sama dengan lebih banyak penjahit dan penenun dari seluruh pelosok nusantara. Di samping itu, ia berencana membuka cabang di negara lain dengan menggandeng anak-anak muda setempat yang memiliki kepedulian akan slow fashion dan kesinambungan.
"Kami sangat berharap Our Reworked World dan gerakan-gerakan serupa kami ini tidak berhenti seiring pandemi mereda. Selama dua tahun ini, gerakan kami justru membesar. Saya yakin apabila kampanye slow fashion digaungkan bersama-sama, melibatkan semua pemangku kepentingan, maka masa depan manusia yang berkesinambungan bisa kita capai," kata Annika.
Annika menyebut sampai saat ini sebagian besar UMKM ada yang gulung tikar akibat pandemi. Menurutnya, hal itu tak cuma di kota kecil, tetapi di kota-kota besar kondisinya juga tak kalah suram.
Annika meneturkan sekelas Bali yang merupakan episentrum andalan Indonesia untuk wisatawan domestik dan mancanegara saja mencatat kehilangan potensi ekonomi hingga 90 persen.
"Situasi ini sangat memprihatinkan. Ini salah satu alasan kami menggagas Our Reworked World, yaitu gerakan untuk membantu para pekerja informal, khususnya para penjahit, serta UKM yang terimbas dan kehilangan pendapatan. Gerakan ini juga merupakan upaya kami dalam menggencarkan kampanye slow fashion yang bertujuan mengurangi limbah tekstil dan menyelamatkan bumi untuk masa depan yang berkelanjutan," ujar Annika.
