Kumparan Logo

Pelemahan Rupiah Penyebab IHSG Anjlok

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ruang pencatatan saham di BEI. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ruang pencatatan saham di BEI. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tergelincir di penutupan perdagangan saham hari ini. IHSG anjlok dan ditutup di zona negatif di level 6.079 atau tertekan 149,78 poin atau 2,40%.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, tertekannya IHSG masih dipengaruhi oleh sentimen global tentang ekspektasi investor atas kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) yang diprediksikan akan kembali menaikkan suku bunga acuannya atau Fed Fund Rate (FFR). Diperkirakan, The Fed akan kembali menaikkan suku bunganya 3-4 kali di tahun ini.

Hal tersebut membuat investor mulai mengamankan portofolio mereka di instrumen yang lebih menguntungkan seperti dolar AS. Dana asing yang ada di Indonesia kembali 'pulang kampung'. Akibatnya, pasar keuangan Indonesia terguncang termasuk bursa saham.

"The Fed telah memberikan wacana untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan secara agresif, sehingga memberikan efek hawkish (agresif) bagi dolar AS yang menyebabkan rupiah terdepresiasi signifikan," kata Nafan kepada kumparan (kumparan.com), Rabu (25/4).

Pekerja melintasi layar IHSG (Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja melintasi layar IHSG (Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Nafan juga menuturkan, IHSG juga saat ini masih minim sentimen positif. Hal inilah yang akhirnya membawa indeks kembali terparkir di zona merah.

"Pelemahan IHSG disebabkan oleh minimnya sentimen positif dari dalam negeri. Seperti yang diketahui bersama, adapun pelemahan rupiah merupakan faktor utama yang menjadi penyebab melemahnya IHSG," ujarnya.

Seluruh indeks sektoral terpantau melemah. Sektor keuangan mencatat pelemahan paling tajam 4,07% disusul sektor consumer goods yang turun 2,38%.

Sebanyak 92 saham naik, 303 saham turun, dan 89 saham stagnan. Frekuensi saham ditransaksikan sebanyak 423.843 kali dengan total volume perdagangan sebanyak 8,897 miliar saham senilai Rp 8,326 triliun. Dana asing keluar tercatat Rp 1,565 triliun. Sementara kapitalisasi pasar mencapai Rp 6.779,411 triliun.