Kumparan Logo

Pemerintah Ajak Negara-negara G20 Kembangkan Industri Farmasi Ramah Lingkungan

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Ignatius Warsito.  Foto: Dok. Kemenperin
zoom-in-whitePerbesar
Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Ignatius Warsito. Foto: Dok. Kemenperin

Pemerintah Indonesia mengajak negara-negara anggota G20 untuk mengembangkan industri farmasi yang ramah lingkungan (green pharmacy). Plt. Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian (IKFT Kemenperin) Ignatius Warsito mengatakan, saat ini pemerintah juga tengah menyusun peta jalan atau roadmap agar industri farmasi bisa terus berkelanjutan.

"Sangat penting untuk berbicara tentang green pharmacy. Dari sisi industri, produk farmasi saat ini sebagian besar dikembangkan dari bahan kimia dasar. Transformasi untuk menjadikannya green atau ramah lingkungan sangat penting untuk keberlanjutan," ujar Warsito dalam webinar T20 Indonesia: Green Pharmacy's Role in Supporting Global Health Architecture, Selasa (6/9).

Dia melanjutkan, konsep farmasi yang ramah lingkungan ini bukan sekadar membuat transisi obat kimia ke herbal, tapi juga membuat bahan obat yang ramah lingkungan. Selain itu, pemerintah juga mendorong agar produk farmasi seperti obat-obatan, bisa diproduksi di dalam negeri.

"Kita ingin membuat roadmap untuk Indonesia. Penting bagi semua pihak dari hulu hingga hilir untuk melakukan kolaborasi dengan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Bersama-sama membuat parameter," jelasnya. Warsito berharap, roadmap tersebut bisa segera rampung. Sehingga industri farmasi bisa semakin kuat secara nasional maupun global.

Dari sisi industri, Biomolecular Pharmacy Expert Dexa Group, Raymond Tjandrawinata, menjelaskan bahwa Green Pharmacy merupakan alternatif untuk mendorong sektor kesehatan sekaligus perekonomian berkelanjutan.

"Misalnya, mengurangi emisi dan meningkatkan bahan organik, menyesuaikan pH tanah, dan meningkatkan retensi air dan kapasitas menahan. Ketika kita mengembangkan apotek, kita perlu memastikan produk kimia diturunkan dengan lebih banyak green pharmacy," kata Raymond.

Biomolecular Pharmacy Expert Dexa Group, Raymond Tjandrawinata, dalam webinar T20 Indonesia. Foto: Dok. Istimewa

Dia melanjutkan, green pharmacy juga membutuhkan proses yang modern dan pengujian yang andal agar bisa digunakan oleh banyak orang maupun diproduksi industri. Selain itu, green pharmacy juga diharapkan bisa memperbaiki rantai pasok, baik dari dari petani maupun industri.

"Jika kita berbicara tentang green pharmacy dalam jumlah besar, siapa yang akan mendapatkan keuntungan. Tidak hanya produsen, perusahaan, pasien dan dokter, tetapi juga para petani yang memiliki kemampuan menanam sesuai dengan praktik agrikultur yang baik," kata Raymond.

Menurut Raymond, Indonesia memiliki jamu tradisional yang baik untuk pencegahan penyakit yang telah digunakan oleh masyarakat. Namun menurutnya, hal ini memiliki tantangan seperti sedikit khasiat dan tidak adanya bukti. "Ini yang harus kita lawan, agar masyarakat mengerti pentingnya green pharmacy yang produknya bisa membantu pasien," kata dia.

Di masa depan, lanjut Raymond, green pharmacy harus menjadi obat yang bisa terintegrasi dengan pengobatan konvensional, pengobatan gaya hidup, dan terapi komplementer yang terinformasi. Sehingga diharapkan kehidupan manusia akan lebih baik serta kualitas hidup menjadi jauh lebih tinggi.

Menurut Raymond, green pharmacy adalah obat berbasis bukti, sehingga para dokter dapat mempercayai dan meresepkan produknya. Produk alami ini juga tidak kalah dengan produk konvensional. "Misalnya, kami head-to-head antara Readacid dan produk Omeprazole lainnya. Produk green pharmacy yang baik dapat menggantikan produk yang berbahan kimia," kata dia.

"Kita punya Formularium Nasional tapi masih ada 5 produk saja, kita perlu menambah minimal menjadi 20 produk. Kita harus berkolaborasi untuk memastikan fitofarmaka green pharmacy dapat dengan mudah ditambahkan ke dalam formularium," tuturnya.

Ia pun berharap agar green pharmacy bisa berkembang di Indonesia. Salah satunya dengan meningkatkan 40-50 persen obat di Indonesia menjadi green pharmacy.

"Dexa Group telah memproduksi fitofarmaka sejak 2011. Produk green pharmacy kami sudah sangat dihargai di negara lain. Kita perlu bekerja sama agar dokter dapat meresepkan ini karena greeen pharmacy menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kualitas hidup manusia," tambahnya.

Lead Co-Chair Think 20 (T20) Indonesia Bambang Brodjonegoro, menjelaskan bahwa Presidensi G20 Indonesia mendorong kapabilitas produk kesehatan yang selama ini masih bergantung pada impor. Tidak hanya menguras devisa negara, impor bahan baku obat juga dapat menyebabkan supply shock saat terjadinya keadaan darurat seperti pandemi COVID-19.

Menurut Bambang, pengembangan green pharmacy memiliki pasar yang menjanjikan di masa depan, mulai dari negara-negara berkembang hingga negara maju. Sebab, sebagian besar penduduknya menggunakan produk obat herbal dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dasar mereka karena khasiat yang tinggi serta untuk pengobatan penyakit menular dan tidak menular.

"Saat ini, green pharmacy telah mendapatkan dukungan ang sangat baik serta koordinasi yang sangat kuat. Indonesia dengan inisiasi green pharmacy, menjadi panutan dalam pengembangan fitofarmaka bersama dengan industri kesehatan lokal sebagai tulang punggung industri kesehatan," kata Bambang.