Kumparan Logo

Pemerintah Akan Bangun PLTS 24.000 Hektare untuk Naikkan Produksi Listrik

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) PLN Indonesia Power (PLN IP). Foto: PLN Indonesia Power
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) PLN Indonesia Power (PLN IP). Foto: PLN Indonesia Power

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiasati pelemahan nilai tukar rupiah dengan menaikkan produksi listrik, salah satunya melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, memastikan fluktuasi nilai tukar tidak berdampak pada ketersediaan energi, sebab ada penguatan produksi kelistrikan dari energi baru terbarukan, sehingga mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Berdasarkan Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada level Rp 17.883 pada pukul 15.00 WIB.

"Walaupun ada fluktuasi (nilai tukar rupiah), ini tidak akan terganggu ketersediaan energi listrik khususnya," ungkapnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (29/5).

Yuliot mengungkapkan sebagai bagian akselerasi program PLTS 100 gigawatt (GW), pemerintah akan membangun PLTS seluas 24.000 hektare di Pulau Jawa. Dia menyebut perlu ada regulasi dasar untuk implementasi proyek ini.

Di sisi lain, dia mengatakan eksekusi proyek ini juga memerlukan ketersediaan lahan. Untuk itu, perlu koordinasi dengan Kementerian ATR/BPN, yang akan dimulai dengan 17 GW.

"Berdasarkan identifikasi yang kita lakukan bersama antara Kementerian ESDM dengan Kementerian ATR/BPN, di Pulau Jawa sudah tersedia sekitar 24 ribu hektare," ujar Yuliot.

Yuliot menjelaskan, seiring dengan verifikasi lahan masih berlangsung, pemerintah bersama PT PLN (Persero) juga menyiapkan infrastruktur transmisi dan ketersediaan gardu induk.

"Ini kan harus kita interkoneksikan antara pembangkit yang kita bangun di 24 ribu hektare ini. Ya mudah-mudahan minggu depan itu kita bisa lakukan untuk percepatan," jelas Yuliot.

Wamen ESDM Yuliot Tanjung di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (25/5/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan

Selain PLTS, pemerintah juga mengakselerasi program dedieselisasi, atau konversi pembangkit berbahan bakar diesel menjadi PLTS, terutama di wilayah 3T dan Indonesia wilayah timur seperti Maluku.

Tidak hanya itu, Yuliot juga menjelaskan strategi lain yakni pembangunan pembangkit energi baru terbarukan lainnya, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Dia menyebut masih ada beberapa PLTA yang akan diperbaiki, salah satunya PLTA Batang Toru berkapasitas 500 MW, beserta trasnmisinya.

"Karena dampak dari bencana Sumatera kemarin, ini ada 8 tiang transmisi yang kita perlu lakukan relokasi. Jadi ternyata relokasi ini kan masuk di dalam kawasan hutan, ya kita juga sudah mengajukan permohonan ke Kementerian Kehutanan untuk percepatan pergeseran dari tiang transmisi yang terdampak," jelasnya.

Ketahanan Pasokan BBM

Petugas berdiri di samping mesin pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Di sisi lain, Yuliot juga menyoroti pasokan BBM tidak akan terganggu meskipun ada pelemahan kurs rupiah, yang berdampak pada kenaikan harga impor minyak mentah dan BBM. Dia menegaskan cadangan nasional masih di atas batas minimal.

"Misalnya untuk Pertalite itu jauh di atas cadangan minimal, dan juga untuk Solar CN 48 itu juga di atas cadangan minimal. Dan juga non-subsidi pun kita amankan seperti CN 51, Pertamax, dan juga Pertamax Turbo ini cukup secara nasional," ungkap Yuliot.

Dengan demikian, dia juga memastikan belum ada pembahasan kenaikan harga BBM maupun listrik di tengah fluktuasi harga minyak mentah internasional dan kurs, sebab pengadaan dalam negeri akan diperkuat.

"Menurut perhitungan kita kan ada produksi dalam negeri yang kita dorong itu peningkatan, kilang di dalam negeri pun itu juga kita juga sudah siapkan," tandasnya.

instagram embed