Kumparan Logo

Pemerintah Akui Lemah dalam Menghitung Data Kebutuhan Jagung

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petani memanen jagung di Panyileukan, Bandung. Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
zoom-in-whitePerbesar
Petani memanen jagung di Panyileukan, Bandung. Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Beberapa waktu lalu peternak ayam sempat kesulitan mendapatkan jagung untuk kebutuhan pakan. Hal ini turut membuat harga jagung tinggi hingga mencapai Rp 6.200 per kilogram (kg), wajarnya harga jagung sekitar Rp 3.500-Rp 4.000 per kg.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Pangan dan Agribisnis Musdalifah mengatakan, kondisi jagung sempat mengalami kekurangan beberapa akhir ini. Padahal, menurutnya, jauh-jauh hari pemerintah sudah menghitung potensi serapan jagung dalam negeri.

"Waktu itu kami melihat bahwa kita masih punya banyak potensi untuk serap jagung dari dalam negeri. Memang jagungnya masih ada, tapi kita agak kurang dalam mengukur kebutuhan jagung industri kecil dan menengah," katanya usai gelaran Rountable Stabilitas Harga Pangan Nasional Tahun 2019-2024 di Gedung Kadin, Jakarta Selatan, Kamis (14/2).

Komoditas Jagung Indonesia yang Siap Diekspor. Foto: Dok. Kementerian Pertanian

Ia menambahkan, seharusnya pada saat musim paceklik, pemerintah sudah mampu mengukur ketersediaan jagung untuk kebutuhan 3 bulan ke depan. Di sisi lain, katanya, kebijakan pemerintah untuk mengurangi impor jagung dapat berdampak positif dengan terjadinya serapan dalam negeri.

"Tapi kemudian kita lihat ada hal-hal yang tidak terukur. Mungkin pendataan kita kurang tersistem dengan baik. Sehingga kita terlambat mengukur kekurangan saat masa paceklik. Akhirnya kita baru melakukan pencukupan kebutuhan peternak pada saat-saat akhir," sambungnya.

Oleh karena itu, Musdalifah menekankan agar ke depan pihaknya dapat menata ulang dan memperbaiki informasi mengenai produksi dan data jagung. Sebab, gejolak harga jagung pada tahun 2018 dinilai lebih bergejolak dibandingkan tahun 2017.

"Kita perlu mengukur produsen dan konsumen jagung ini dengan lebih detail. Kalau kita lihat, di Jawa masih banyak yang belum mendapat jagung, tapi di Sumut (Sumatera Utara) sekarang panen raya besar. Ke mana jagung itu pergi? Mungkin memang industri kita menyerap besar sekali dan ini perlu kita antisipasi lebih baik lagi ke depan," lanjutnya.