Pemerintah Bakal Subsidi CNG 3 Kg, Segini Produksinya di Dalam Negeri
·waktu baca 3 menit

Subsidi LPG 3 kilogram (kg) digadang-gadang akan tergantikan oleh Compressed Natural Gas (CNG) tabung 3 kg. Bahan bakunya yang mayoritas bisa dipenuhi di dalam negeri menjadi salah satu alasan konversi untuk menghemat anggaran negara.
Asosiasi Perusahaan Liquefied & Compressed Natural Gas Indonesia (APLCNGI) menyambut baik kebijakan tersebut. Pasalnya, kapasitas produksi CNG di Indonesia cukup besar yakni mencapai 50 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd).
"Kapasitas produksi CNG di Indonesia saat ini mencapai sekitar 30—50 mmscfd atau 10.800 - 18.000 mmscf per tahun," ungkap Bendahara Umum APLCNGI, Tori, saat dihubungi kumparan, Sabtu (9/5).
Sejauh ini, Tori menuturkan CNG memang sudah digunakan terbilang masif di beberapa sektor industri, seperti transportasi hingga berbagai restoran waralaba besar.
"Untuk CNG sudah ada di gunakan di Horeka (hotel, restoran, dan kafe) seperti MCD, KFC, rumah makan padang, dan lain-lain," jelasnya.
Produk CNG untuk Transportasi hingga Dapur MBG
Sementara itu, Direktur Operasi dan Komersial PGN Gagas, Maisalina, mengatakan PGN merupakan pemain terbesar bisnis niaga gas di Indonesia, termasuk CNG dikelola PGN Gagas yang fokus pada bisnis di luar pipa (beyond pipeline).
PGN Gagas, kata dia, memiliki total 11 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dan 4 Mobile Refueling Unit (MRU) atau lokasi pengisian bahan bakar gas termasuk CNG. Selain itu, terdapat 19 SPBG lain yang dikelola langsung oleh PT Pertamina (Persero).
"Secara infrastruktur, prinsipnya kami siap untuk mendukung semua arah kebijakan dari pemerintah, memang bertahap kita tidak bisa langsung dalam waktu 1-2 tahun langsung berjalan semua, tapi pada prinsipnya kami siap mendukung dan kami siap berkoordinasi sesuai dengan kebijakan pemerintah," katanya saat Talkshow APLCNGI, dikutip Sabtu (9/5).
Maisalina mengatakan, CNG diperlukan untuk mendistribusikan gas bumi ke daerah yang belum terjangkau oleh pipa gas, utamanya Indonesia Timur. Sebab, wilayah Indonesia sangat luas dan berpulau-pulau, membutuhkan biaya dan waktu yang lama menyambungkan pipa antar pulau.
Dia menilai, CNG merupakan bisnis yang menarik dan sudah lama dikembangkan oleh PGN Gagas. Saat ini, perusahaan menyalurkan sekitar 15 billion british thermal unit per day (BBTUD) CNG.
"Hari ini kita sudah menjalankan untuk Gagas sendiri sekitar 15 BBTUD yang kami salurkan per harinya kepada para pelanggan. Kami punya (produk) untuk transportasi dan industri," ungkap Maisalina.
Untuk sektor transportasi, alur distribusi CNG dimulai dari pasokan gas bumi dari Pertamina, PGN, atau kontraktor lain, kemudian diolah menjadi CNG dan disalurkan kepada pengguna transportasi di SPBG.
"SPBG yang kita kirimkan untuk transportasi, Transjakarta, bis-bis gitu, kemudian taksi dan juga mobil sampai dengan bajaj, ini volume-nya cukup besar. Kita tujuannya untuk mengurangi subsidi BBM yang hari ini cukup tinggi," jelas Maisalina.
Kemudian untuk industri lain, setelah mendapatkan pasokan gas bumi, CNG dimasukkan dalam tabung silinder. Adapun produk tabung CNG perusahaan yakni Gaslink, kemudian diantar ke lokasi pelanggan menggunakan tail gate truck atau GTM.
"Kami sebut namanya Gaslink produknya, ini yang kita salurkan hari ini ke Horeka, ke restoran, kemudian juga ke SPBG untuk penyediaan MBG di seluruh Indonesia," ungkapnya.
